Rabu, 22 April 2026
Bacaan Injil: Yoh 6:35-40
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Setiap kali kita merayakan Ekaristi kita menerima nutrisi rohani, dalam rupa sabda Tuhan dan Tubuh Kristus. Hal itu menjadi kekuatan dan santapan bagi jiwa kita.
Sebelum menerimakan Tubuh Kristus, seorang imam akan mengangkat Tubuh Kristus dan piala berisi Darah Kristus seraya berkata, “Kecaplah dan lihat, betapa baiknya Tuhan. Dialah santapan jiwa, daya ilahi melawan dosa. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan Tuhan”.
Dalam bacaan Injil pada hari ini, Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi, barangsiapa percaya kepada-Ku tidak akan haus lagi.” Yesus mewahyukan diri-Nya sebagai Roti Hidup. Dialah nutrisi rohani bagi hidup kita.
Pemberian diri Yesus ini sebagai cara Allah untuk membawa manusia kepada kehidupan kekal. Roti yang dimaksud di sini adalah perlambang dari salah satu materi yang membuat orang dapat hidup. Namun Yesus masih menambah aspek lain yang membawa kepada hidup, yaitu iman kepercayaan kepada-Nya.
Menerima Yesus sebagai Roti Hidup berarti hidup dalam keselamatan. Hidup dalam keselamatan berarti hidup berkelimpahan rahmat.
Kita diajak untuk percaya atau mengimani Yesus Sang Roti Hidup itu. Dalam terminologi Santo Yohanes, iman berarti penyerahan diri yang utuh dan menyeluruh, komitmen total seluruh hidup, mencakup seluruh hidup: hati, pikiran, perasaan, tindakan, cara pandang.
Dengan demikian iman dalam Injil Yohanes berciri dinamis, sebuah kehidupan yang terus menerus bergerak datang kepada Yesus, agar semakin dekat atau bersatu dengan-Nya dan peduli kepada sesama di sekitar yang membutuhkan.
Dengan menyambut komuni, kita menerima Kristus dan bersatu dengan-Nya. Dia tinggal dan meraja dalam hati kita. Tetapi kadang kala kita bergulat dan protes pada Tuhan saat mengalami penderitaan dan masalah. Kita merasa ditinggalkan Tuhan.
Pertanyaan refleksinya, sejauh mana kita percaya bahwa Tubuh Kristus yang kita terima adalah nutrisi rohani yang menyelamatkan? Bagaimana penghayatan kita terhadap Ekaristi selama ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









