Senin, 1 Juni 2026
PW. St. Yustinus, Martir
Bacaan Injil: Mrk 12:1-12
Saudari-saudara yang terkasih,
Barangkali kita pernah mendengar berita bahwa ada seseorang yang tamak, sehingga tega membunuh saudara-saudarinya. Tujuannya agar mendapatkan jatah warisan yang lebih banyak. Demi ambisinya untuk tamak atau serakah, dia menghalalkan segala cara, termasuk membunuh saudara kandungnya sendiri. Misalnya, saudaranya dibuat sakit dan meninggal dunia secara tidak wajar.
Ketamakan ternyata bisa melahirkan tindakan-tindakan dosa yang lain, yaitu menyakiti dan membunuh. Ketamakan adalah salah satu dosa pokok (capital sins).
Dosa pokok adalah dosa yang dapat menyebabkan dosa-dosa yang lainnya. Lawan dari ketamakan adalah kemurahan hati. Menurut tradisi Gereja, ada 7 dosa pokok yang dimaklumkan oleh Paus Gegorius Agung, yaitu: kesombongan, hawa nafsu, iri hati, kerakusan (makanan-minuman), kemarahan, kemalasan, dan ketamakan (harta).
Sikap tamak atau serakah inilah yang dikritik Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini. Para penggarap kebun anggur serakah. Mereka tega memukuli, melempari dan membunuh para hamba dan anak kandung sang pemilik kebun anggur agar hasil kebun anggur itu bisa mereka miliki semuanya. Ketamakan (bahasa Latin: avaritia) atau keserakahan adalah keinginan tak terkendali atas materi atau harta duniawi.
Dalam Kitab Suci, kita mengetahui bahwa orang yang tamak tidak pernah memiliki uang yang cukup dan tidak pernah penghasilannya terpuaskan (Pengkotbah 5:9). Bahkan Santo Paulus menegaskan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan dan menyebabkan seseorang dapat menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya sendiri (1 Tim 6:10).
Santo Yohanes Maria Vianey, pelindung para imam, mengajarkan: “Seorang yang tamak adalah bagaikan seekor babi, yang mencari makanannya dalam lumpur, tanpa peduli darimana makanan itu berasal. Membungkuk ke tanah, ia tidak memikirkan yang lain selain dari bumi; ia tak lagi memandang ke surga, kebahagiannya sudah tak lagi di sana. Seorang yang tamak tak melakukan suatupun yang baik hingga sesudah akhir hayatnya.”
Pada hari ini kita merayakan Peringatan Wajib Santo Yustinus, Martir (100–165 M). Ia adalah seorang filsuf-teolog dari Samaria dan pembela iman Katolik (apologet) pada abad awal yang mempertahankan kebenaran Kristiani hingga wafat sebagai martir. Keteladanannya mengingatkan kita untuk berani bersaksi demi iman dan mencintai Sabda Tuhan.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana cara kita agar dapat mencegah atau mengatasi sikap tamak dalam hidup ini? Apa tantangan yang kita hadapi sebagai murid Kristus zaman ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang). # Y. Gunawan, Pr









