Rabu, 27 Mei 2026
Bacaan Injil: Mrk 10:32-45
Saudara-saudariku yang terkasih,
Melayani itu berkorban. Kadangkala orang tidak siap untuk melayani karena harus berkorban. Tak jarang orang akan menghindar dari tawaran untuk melayani, baik menjadi prodiakon, ketua lingkungan, pemazmur, pengurus lingkungan atau pengurus Dewan Pastoral Paroki.
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita akan makna pelayanan yang sejati. Pelayanan butuh pengorbanan. Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Bahkan mengorbankan nyawa-Nya demi keselamatan manusia.
Bacaan Injil hari ini diawali dengan nubuat ketiga akan penderitaan yang akan dialami oleh Tuhan Yesus. Dia memperkenalkan diri-Nya sebagai seorang Mesias yang menderita. Dia diserahkan kepada imam-imam kepala dan para ahli Taurat. Dia diolok-olok, disesah, disalibkan, dan bangkit pada hari ketiga.
Anthony D’Souza SJ mengemukakan bahwa gambaran pemimpin sebagai pelayan (servant) mengandung tiga kata kunci, yaitu: pelayanan, dukungan dan pemberdayaan. Yesus adalah seorang pemimpin yang melayani.
Dia menasihati para murid bahwa barangsiapa ingin menjadi besar hendaklah ia menjadi pelayan. Yesus tidak hanya jago berkata-kata (omong doang), tetapi juga bertindak nyata lewat perbuatan dan kesaksian hidup-Nya. Hal ini tampak dalam peristiwa pembasuhan kaki para rasul (Bdk. Yoh 13:12-17). Yesus sebagai pemimpin sekaligus guru memberikan keteladanan dalam melayani.
Bahkan Dia sampai berani dan siap menyentuh sekaligus membersihkan bagian yang kotor. Para pengikut-Nya diharapkan juga wajib saling membasuh dan melayani dengan penuh kasih satu sama lain.
Pertanyaan refleksinya, Sejauh mana kita menghayati pelayanan selama ini? Apa saja yang telah kita korbankan untuk pelayanan kita?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









