Percik Firman: Peka Melihat Kasih Tuhan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam Bacaan Injil hari ini, kita diajak merenungkan tentang mukjizat Yesus yang menyembuhkan Bartimeus yang buta. Sapaan pertama Tuhan Yesus sungguh menyentuh hati. Dia bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”

Kamis, 28 Mei 2026

Bacaan Injil: Mrk 10:46-52

 

Saudara-saudari yang terkasih,

Dalam Bacaan Injil hari ini, kita diajak merenungkan tentang mukjizat Yesus yang menyembuhkan Bartimeus yang buta. Sapaan pertama Tuhan Yesus sungguh menyentuh hati. Dia bertanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?”

Atas sapaan dan tawaran yang empatik itu, hati siapa yang tidak akan gembira. Bartimeus merasa dicintai Tuhan. Dia sungguh dikasihani Tuhan. Harapannya untuk bisa melihat dipenuhi dan terwujud.

Melalui kisah penyembuhan ini, kita diajak untuk menimba inspirasi tentang perjalanan iman kita dari gelap menuju terang, baik secara fisik maupun spiritual. Bartimeus tidak peduli dengan teguran orang banyak. Ia terus berseru karena yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya yang dapat menolongnya.

Yesus menyembuhkan si pengemis yang buta itu secara fisik dan spiritual. Selain menyembuhkan mata si buta, Yesus juga semakin meyakinkan dan membuka hatinya bahwa Yesus adalah anak Daud, sang Mesias. Seorang tokoh besar yang membawa keselamatan.

Secara fisik kita tidak buta, namun bisa jadi kita buta secara rohani. Kita tidak jelas melihat kasih Tuhan dalam sejarah hidup kita. Kita tidak peka akan kebaikan Tuhan yang diberikan selama ini.

Kita diajak untuk menjadi pengikut Kristus yang peka melihat kehadiran Allah yang menyelamatkan di balik peristiwa sehari-hari. Yang diperlukan dari pihak kita adalah iman kepada Allah. Yang menyelamatkan kita adalah iman kita. Seperti sabda Yesus kepada Bartimeus, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!”

Pertanyaan refleksinya, apa saja yang membuat kita buta terhadap kasih Allah dalam hidup sehari-hari? Bagaimana usaha kita agar bisa melihat kebaikan Tuhan dalam sejarah hidup kita?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr