Sabtu, 18 April 2026
Bacaan Injil: Yoh 6:16-21
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Gereja Katolik ibarat bahtera atau kapal yang berlayar. Sampai ada lagu yang berjudul “Gereja bagai Bahtera”. Dalam pelayaran kita mengarungi “samudera kehidupan di dunia ini”, kita berada dalam kapal yang sama bersama Sri Paus sebagai pemimpin kita.
Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan memberikan pertolongan. Orang Jawa bilang, “Gusti mesthi paring dalan” (Tuhan pasti memberikan jalan).
Sabda Tuhan pada hari ini sungguh menguatkan hati kita. Ketika para murid naik perahu pada malam hari, laut bergelora karena angin kencang. Mereka kepayahan mendayung perahu. Mereka juga ketakutan karena melihat seseorang berjalan di atas air.
Ketika para murid menghadapi masalah dan ketakutan, Tuhan Yesus datang menolong. Tuhan Yesus menenangkan hati para murid yang cemas dan takut, karena perahu diombang-ambingkan oleh angin ribut di danau itu.
Di tengah wabah Covid-19 pada waktu itu, Paus Fransiskus dalam renungan Urbi et Orbi pernah mengungkapkan bahwa kita semua, seluruh umat manusia, nyatanya berada dalam perahu yang sama, perahu yang dihantam badai, dan diterpa topan. Kita perlu saling membantu dan mengandalkan Tuhan.
Bisa jadi saat ini ada di antara kita yang sedang berjuang “mendayung” mati-matian, tetapi pertolongan Tuhan tidak segera datang. Sudah berdoa dengan aneka macam doa novena. Sudah ziarah ke sana kemari. Masalah belum juga selesai. Badai tak kunjung berhenti. Pertolongan Tuhan belum datang.
Sebagai orang beriman, kita diingatkan melalui sabda Tuhan hari ini untuk tidak takut dan tidak cemas. Kita tidak sendirian. Tuhan sudah tahu seberapa kemampuan kita. Kita diajak untuk percaya dan mengandalkan pertolongan-Nya. Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat dan termudah. Tidak selalu mulus dan rata. Jalan Tuhan sudah pasti yang terbaik.
Mari terus membangun pengharapan di tengah badai masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Hanya orang yang mempunyai pengharapanlah yang mempunyai masa depan.
Pertanyaan refleksinya, bagaimana situsi batin kita hari-hari ini? Adakah “badai kecemaasan dan ketakutan” yang sedang dihadapi? Apa yang ingin dilakukan untuk menghadapi ketakutan itu?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









