Jumat, 22 Mei 2026
Novena Roh Kudus Hari ke-8
Bacaan Injil: Yoh 21:15-19
Saudari-saudara yang terkasih,
Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menantang komitmen Simon Petrus dalam mengikuti-Nya. Sampai tiga kali Tuhan Yesus menyampaikan pertanyaan kepada Petrus. Tentu hal ini menunjukkan sesuatu yang sangat penting. Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”
Untuk mengikuti Yesus dan menjalankan tugas perutusan-Nya, pertama-tama para murid dituntut untuk punya kesiapsediaan mengasihi-Nya. Bukan pertama-tama kemampuan yang luar biasa, bukan kehebatan, bukan pula prestasi. Tetapi sekali lagi disponibilitas atau kesiap sediaan untuk mengasihiNya.
Untuk bisa melayani, dibutuhkan kasih yang tulus. Untuk bisa mengampuni, juga dibutuhkan kasih yang tulus. Karena apa? Karena Allah Bapa kita adalah Allah yang penuh kasih. Allah adalah kasih. Deus caritas est. God is love.
Hal ini ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI. Pada tanggal 25 Desember 2005, Paus Benediktus XVI mengeluarkan ensikliknya yang pertama, yang berjudul “Allah adalah Kasih” (=Deus Caritas Est).
Paus ingin menempatkan semua yang ia pikirkan, lakukan, putuskan – seluruh karya penggembalaannya –dalam rangka mewartakan bahwa Allah adalah Kasih. Mengapa ini begitu penting? Ditegaskan Bapa Suci, “Dalam dunia, di mana nama Allah kadang-kadang dikaitkan dengan balas dendam atau bahkan kewajiban akan kebencian dan kekerasan, pesan ini amat aktual dan mengena”.
Keyakinan iman bahwa Allah adalah Kasih, merupakan buah dari kontemplasi Santo Yohanes yang dinyatakan dalam suratnya yang pertama: “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 4:8.16).
Allah inilah yang “lebih dahulu mengasihi kita”. Pengalaman akan kasih Allah itu menjadikan banyak orang sebagai pribadi-pribadi yang utuh, matang, dan kudus.
Pertanyaan refleksinya, Apakah kita pernah merasakan pengalaman dikasihi Allah? Bersediakah kita dilibatkan Tuhan dalam karya kasih-Nya di dunia dewasa ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









