Percik Firman: Menjadi Murid Yesus yang Tangguh

Twitter
WhatsApp
Email
Menjadi murid Yesus tidak selalu mudah. Ada konsekwensi dan risiko yang harus dihadapi. Sejak awal Gereja Perdana, para pengikut Kristus mengalami penganiayaan, pengejaran, dan penderitaan.

Sabtu, 9 Mei 2026

Bacaan Injil: Yoh 15:18-21

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Menjadi murid Yesus tidak selalu mudah. Ada konsekwensi dan risiko yang harus dihadapi. Sejak awal Gereja Perdana, para pengikut Kristus mengalami penganiayaan, pengejaran, dan penderitaan.

Seringkali kematian menjadi bukti nyata. Terjadi kemartiran di mana-mana. Ada orang tidak suka dengan iman Katolik, lalu berusaha menyingkirkan.

Sabda Tuhan hari ini menegaskan hal itu. Dalam amanat perpisahan-Nya, Tuhan Yesus mengungkapkan dengan tegas, “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu”. Sejak awal Yesus sudah mengingatkan kita semua akan hal ini.

Banyak orang Katolik dianiaya dan rela berkorban demi imannya pada Kristus. Mereka meninggal sebagai martir.

Dalam salah satu audiensi dengan para peziarah di Roma tahun 2019, Paus Fransiskus pernah mengungkapkan, “Kemartiran adalah suasana kehidupan seorang kristiani. Martir akan selalu ada di antara kita. Inilah tanda bahwa kita berada di jalan Yesus, inilah berkat Tuhan. Di antara umat Allah ada beberapa orang yang bersaksi dengan kemartiran”.

Salah satu contoh pribadi yang wani nggetih, tangguh, punya komitmen dan siap menanggung konsekuensi mengikuti Yesus adalah Santo Stefanus. Dia adalah orang pertama yang mengikuti jejak langkah Yesus Sang Guru dengan menjadi martir. Dia wafat seperti Yesus mempercayakan hidup-Nya kepada Allah dan mengampuni para penganiaya-Nya.

Dari doa, muncul kekuatan untuk siap menderita sebagai pengikut Kristus. Kita harus tekun berdoa kepada Allah agar Dia mencurahkan Roh Kudus ke atas diri kita. Dengan demikian, kita dapat menghadapi tantangan, pengalaman suka duka, jatuh bangun dalam mengikuti Yesus saat ini.

Pertanyaan refleksinya, apa bentuk penganiayaan dan penderitaan yang pernah kita alami sebagai murid Kristus pada zaman sekarang ini? Bagaimana upaya yang dilakukan untuk menghadapinya?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr