MERTOYUDAN,KEDU- Suasana Gedung Griya Witaka Paroki St. Yusup Pekerja Mertoyudan, Magelang, terasa begitu hangat dan hidup pada Minggu pagi, 27 September 2026. Hari itu, saya bersama puluhan rekan katekis dan pemandu dari berbagai lingkungan se-Paroki Mertoyudan berkumpul bersama. Pertemuan ini bukan sekadar agenda biasa, melainkan sebuah ruang perjumpaan dan penyegaran semangat pelayanan dalam rangka mengungkapan rasa syukur atas HUT ke-70 Paroki kami.
Melangkah ke dalam ruangan, kenangan akan sejarah paroki ini seolah kembali hadir. Kehadiran kami di sini terasa begitu bermakna karena menyentuh salah satu dari tiga pilar awal penyebaran kekatolikan di Mertoyudan, yaitu peran para katekis, selain bidang pendidikan dan kebudayaan.

Acara dibuka dengan hangat oleh Romo Antonius Abas Kurnia Andrianto, Pr, Pastor Paroki kami, sebelum akhirnya menyerahkan dinamika acara kepada narasumber utama, Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr (Vikep Kategorial KAS).

Saat Romo Santo sapaan akrab beliau mulai berbicara, pandangan kami seakan dibukakan kembali. Beliau menekankan betapa pentingnya connectedness atau keterhubungan antara kita sebagai pelayan dengan umat di lingkungan maupun masyarakat luas. Refleksi yang beliau lontarkan terasa menohok sekaligus menyejukkan:
“Bagaimana kita membuat umat merasa bahagia dan nyaman selama mengikuti pertemuan lingkungan, alih-alih membuat mereka merasa stres atau terbebani?”
Pesan itu menyadarkan saya dan rekan-rekan. Romo Santo mengingatkan agar kita tidak sekadar membaca buku panduan secara kaku. Tugas kita sebagai katekis dan pemandu adalah mengolah serta menyelaraskan bahan-bahan tersebut dengan konteks kehidupan nyata di lingkungan masing-masing. Dengan begitu, kisah Yesus dalam Kitab Suci dapat benar-benar terhubung dan menyapa kisah hidup umat sehari-hari.

Suasana sarasehan semakin hidup ketika memasuki sesi berbagi (sharing). Ruangan riuh dengan gelak tawa, riak haru, dan anggukan setuju dari para peserta. Kami tidak hanya duduk pasif mendengarkan ceramah, tetapi saling membuka diri, membawa, dan membagikan pergumulan serta pengalaman nyata dari lapangan.
Menjelang akhir sesi, kami diajak untuk merancang secara langsung konsep pertemuan umat yang tidak hanya berbobot, tetapi juga membahagiakan dan inspiratif. Keluar dari Gedung Griya Witaka hari itu, ada cangkir semangat baru yang terisi penuh di dalam dada siap untuk dibagikan kembali kepada umat di lingkungan masing-masing.
Penulis: Wahyu Aryono Nugrho
Foto: Istimewa









