Keuskupan Agung Semarang (KAS) menyelenggarakan Temu Pastoral (Tepas) untuk peserta Kevikepan Semarang pada 12 Oktober 2026, bertempat di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para imam, biarawan-biarawati, serta DPP/DPS terkait pewartaan, Litbang, dan programasi untuk berkumpul, berbagi pengalaman, merefleksikan arah pelayanan Gereja, dan menyusun arah program pastoral 2027.
Temu Pastoral ini, dipandu oleh Romo Yohanes Wahyu Rusmana, Pr dan diikuti oleh 193 peserta. Para peserta bersama-sama mendalami tema ‘Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan: Formasio Iman yang Fundamental, Eklesial, Total dan Integral’. Tema ini menjadi landasan bagi para peserta untuk mendalami panggilan Gereja dalam mewujudkan program nyata di tengah umat dan masyarakat.

Vikaris Jendral Keuskupan Agung Semarang, Rm Fransiskus Xaverius Sugiyana, Pr membuka Tepas dengan memberikan gambaran tujuan diadakannya Tepas ini. Selain merancang program strategis, Tepas ini juga berfokus pada menata dan mengorganisir Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB) sebagai komunitas umat beriman, dan menjadi wadah pendampingan iman.

Pada sesi pertama, seluruh peserta diajak mendalami materi ‘Pengorganisasian FIBB secara Eklesial, Total, dan Integral’ bersama narasumber Rm. V. Bondhan Prima Kumbara, Pr. Romo Bondhan membawa peserta melihat kembali bahwa keluarga adalah pondasi pendampingan iman umat. Dengan melihat bahwa keluarga menjadi dasar, Romo Bondhan menegaskan bahwa program yang akan dibuat di tingkat paroki dapat melibatkan keluarga sebagai ruang perjumpaan yang paling alami dan konsisten. Selain itu, Romo Bondhan juga menambahkan supaya program-program baru juga menumbuhkan ruang-ruang perjumpaan dan kepedulian satu sama lain.
Tepas sesi kedua diisi oleh Raden Paulus Edi Widiasta, M. Fil, dengan materi ‘Pengembangan Spiritualitas dan Kapasitas Pendamping’. Bapak Edi mengajak peserta membuat program berdasarkan kebutuhan umat. Diawali dengan mengumpulkan informasi, menganalisis dan merumuskan kebutuhan umat, brainstorming untuk mendapatkan gagasan baru, membuat rencana katekese untuk menjawab kebutuhan umat dan diakhiri dengan evaluasi. Selain memberikan materi, Bapak Edi juga memberikan contoh praktis yang dilakukan oleh Paroki St. Antonius Kotabaru dalam melakukan katekese yang berjenjang sesuai dengan kebutuhan umat.
Sesi selanjutnya, peserta diajak untuk diskusi kelompok. Dalam diskusi ini, para peserta dapat berbagai keresahan dan pengalaman yang ada di paroki masing-masing. Salah satu peserta dari Paroki St Martinus Weleri, Agnes Wilis, mengungkapkan bahwa ia senang mengikuti Tepas ini dan mendapatkan pengetahuan baru dari para narasumber. Agnes berharap bahwa Keuskupan Agung Semarang memberikan guideline bagi pendampingan di setiap jenjangnya.
Pada kesempatan ini, diadakan launching tools PROMO: Programasi dan Monitoring yang dibuat oleh Tim IT Keuskupan Agung Semarang. Tools ini akan membantu mendokumentasi programasi dan juga sekaligus menjadi sarana dalam memonitoring program di masing-masing paroki.

Sesi penutup Tepas, Mgr. Robertus Rubiyatmoko memberikan peneguhan kepada seluruh peserta. Mgr. Rubi menekankan bahwa dalam membuat programasi dengan prioritas dan rancangan program yang secara konkret dapat dilaksanakan di masing-masing tempat. Penyusunan program berdasarkan ARDAS, kebutuhan umat, kemampuan, dan waktu. Selain itu, Mgr. Rubi mengingatkan bahwa landasan dasar programasi adalah kebutuhan umat. Sebelum merancang program, pendamping dapat lebih peka dalam mendengarkan umat dan menggunakan data sederhana untuk melihat kebutuhan dan hambatan yang dialami oleh umat. Program-program yang dibuat juga diharapkan tidak menghilangkan ke-khasan dari masing-masing paroki.









