Romo Yohanes Kristiyanta Ajak Umat Menemukan Kemerdekaan di Tengah Keterbatasan

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI JETIS — Kemerdekaan sejati tidak ditentukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh kehidupan jiwa yang berakar pada Roh Allah. Pesan itu disampaikan Romo Yohanes Kristiyanta, Pr., dalam homili misa arwah peringatan satu tahun wafatnya Vincentius Suparjono di Balai RK Cokrodiningratan, Senin (12/10/2026) malam.

Mengangkat tema “Allah yang Membebaskan”, Romo Kristiyanta mengajak umat Lingkungan Santo Ignatius Cokrodiningratan menerima keterbatasan tubuh dan tetap bertumbuh dalam iman. Menurutnya, manusia akan sulit menemukan kebahagiaan jika terus bergantung pada kekuatan fisik dan menolak kelemahan dirinya.

Ia menggambarkan keterbatasan manusia melalui pengalamannya sendiri. Saat hendak menuju lokasi misa, ia mengungkapkan bahwa pikirannya sudah sampai di Cokrodiningratan, tetapi tubuhnya masih harus berjalan di tepi jalan.

“Pikiranku wes tekan Cokro, tapi aku isih mlaku neng pinggir dalan,” ujarnya.

Romo Kristiyanta menjelaskan, manusia tetap memiliki kelemahan, sepintar atau segagah apa pun dirinya. Ia menceritakan perubahan kemampuan fisiknya seiring bertambahnya usia. Semasa muda, ia sanggup memimpin tujuh hingga delapan misa dalam sehari. Memasuki usia 40-an, ia mulai merasakan tubuhnya melemah.

Pengalaman serupa ia rasakan saat berjalan pagi pada akhir pekan dari Jalan AM Sangaji, melewati Jalan Magelang, hingga sekitar Stasiun Tugu. Ketika berjalan bersama orang yang lebih muda, ia kerap tertinggal dan harus berlari untuk mengimbangi langkah mereka.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pikiran manusia mungkin tetap kuat, tetapi kemampuan tubuh terus berubah. Menerima keterbatasan fisik menjadi bagian dari perjuangan hidup yang tidak selalu mudah, terutama ketika usia bertambah.

Merujuk bacaan pertama, Romo Kristiyanta menjelaskan ajakan Rasul Paulus untuk mendasarkan hidup pada Roh, bukan pada daging. Menurutnya, orang yang hanya bertumpu pada kekuatan tubuh dapat merasa terbelenggu oleh keterbatasannya sendiri.

Prinsip itu juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Ia mengingatkan bahwa pasangan Katolik memilih pendamping hidup bukan semata-mata karena penampilan fisik, melainkan karena mencintai jiwa dan berjuang bersama untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Romo Yohanes Kristiyanta, Pr., mengajak umat Lingkungan Santo Ignatius Cokrodiningratan menemukan kemerdekaan dalam iman di tengah keterbatasan fisik dan kehidupan.

Dalam homili tersebut, Romo Kristiyanta turut menyampaikan pesan kepada Ibu Suparjono dan keluarga yang ditinggalkan. Kehilangan pasangan selama setahun terakhir tentu menyisakan kerinduan, tetapi keutamaan yang diwariskan almarhum Vincentius Suparjono dapat menjadi kekuatan bagi keluarga untuk melanjutkan kehidupan.

Ia mengaitkan pesan itu dengan istilah Jawa garwa, kependekan dari sigaraning nyawa atau belahan jiwa. Menurutnya, kehidupan suami dan istri saling memengaruhi. Keraguan, perselisihan, dan sakit hati dalam hidup bersama menjadi bagian dari perjuangan untuk menerima keterbatasan dan tetap setia.

Kesetiaan orang tua untuk terus menjalankan peran sebagai ayah dan ibu yang baik, apa pun perilaku anak-anak mereka, juga merupakan wujud iman dalam kehidupan sehari-hari. Romo Kristiyanta menilai kesetiaan tersebut sama nilainya dengan doa rosario.

Ia juga mengajak umat belajar dari para lansia yang tidak lagi kuat datang ke gereja, tetapi tetap merindukan perayaan Ekaristi secara langsung meskipun komuni dapat diantarkan ke rumah. Bagi mereka, keterbatasan tubuh tidak menghilangkan kerinduan untuk dekat dengan Allah.

Mengacu pada bacaan Injil, Romo Kristiyanta mengajak umat meneladan Yesus yang memulai karya-Nya dengan keyakinan bahwa Roh Tuhan ada pada-Nya. Ia mengajak umat mengingat keyakinan tersebut ketika menghadapi kesulitan.

“Ketika semuanya terasa berat, marilah kita selalu mengatakan: Roh Tuhan ada padaku,” ajaknya.

Penulis: Benedictus Fredika