MUNTILAN, KEDU- Bertempat di Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan 14 Oktober 2026 dimulai pukul 09.00 WIB Temu Pastoral Keuskupan Agung Semarang 2026 hari ke 3 untuk Kevikepan Surakarta dan Kevikepan Kedu. Pengantar pertemuan oleh Rm. FX. Sugiyana, Pr selaku Vikaris Jendral KAS menjelaskan tentang alur pertemuan dan penjelasan singkat tentang TEPAS 2026.
Tujuan Tepas : Memahami fokus pastoral 2027 dan mengorganisir FIBB sebagai komunitas umat beriman. Baik sebagai wadah pendampingan iman, mengembangkan spiritualitas dan kapasitas pendamping, dan merancang program strategis. Mengolah hasil TEPAS menjadi sasaran, program, indikator dan anggaran paroki 2027. “Mewujudkan peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat, dan beriman.” Ini bukanlah uraian teologis yang rumit; tapi ini adalah bahan pendalaman yang membantu mendalami ARDAS secara lebih personal dan komunal.
FIBB : Berumbuh dalam Iman, Berbuah dalam Hidup
Berjenjang : Menyapa setiap tahap kehidupan umat
Berkelanjutan : Proses pendampingan yang tidak putus
Materi sesion pertama dibawakan oleh Rm. Bondan Prima Kumbara, Pr tentang Gereja yang Bahagia, Mengispirasi, dan Menyejahterakan bukan cita-cita jauh. Pembentukan iman kita adalah dari orang-orang di sekitar kita. Sesuatu yang dilakukan berulang ulang untuk menularkan kebaikan inilah modul yang sejati. ”Modul yang sejati lahir dari hati yang mengasihi dan melayani”. Iman kepada Yesus Kristus menjadikan HIDUP=Hidup karena pribadi-Nya hidup di dalam diri kita sejak pembaptisan DINAMIS=Dinamis karena pribadi kita memiliki kehendak NYATA=dengan hidup yang dinamis maka menjadi nyata dalam kehidupan kita menjadi seorang Kristiani bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan mulia, melainkan perjumpaan dengan suatu peristiwa nyata dalam diri kita. Sebagai orang beriman maka harus melakukan merenungkan dan menjalani kehidupan yang penuh kasih setia secara mutlak, termasuk dalam relasi pribadi kita dengan Tuhan dan juga relasi kepada sesama terutama yang KLMTD. “Setiap orang yang beriman adalah formatur bagi yang lain. Tidak boleh ada yang merasa sendirian”

Bagaimana FIBB bisa dijalankan yaitu melalui Pendampingan Iman (Usia Dini-Usia lanjut), Komunitas teritorial dan kategorial, Kunjungan keluarga, dan Ruang perjumpaan Lintas Jenjang. Semua pendampingan iman diarahkan pada penghormatan kebersamaan di ruang keluarga; doa bersama, Family time, belajar mendengarkan, belajar memaknai pengalaman dan mengungkapkan kasi, membuat ritual ritual kecil keluarga. Pertemuan lingkungan, paguyuban, komunitas menjadi Family gethering yang memberi keluasan masing-masing jenjang berperan. Indikator keberhasilan dengan demikian bukan lagi kuantitatif tapi kualitatif. Di satu lingkungan ada satu keluarga punya kebiasaan berdoa bersama lebih berarti daripada 100 persen umat lingkungan mengikuti seminar kursus teologi. Maka perjumpaan dikenali dari buahnya : Habitus doa bersama, Menjadi teladan bagi yang lain, Partisipasi dan pelayanan serta tangguh dalam pelayanan.
Sesion ke dua dibawakan oleh : Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si.
mantan Rektor Soegijapranata Catholic University (SCU)
Pengembangan Spiritualitas & Kapasitas Pendampingan FIBB
Spiritualitas Perjumpaan = Pendekatan pembelajaran yang menghadirkan pengalaman pribadi yang menyenangkan dan mencerahkan.
Faktor apa saja yang menentukan keberhasilan Formatio Iman ?
- Faktor Internal ribadi (Keterbukaan hati, pengalaman bertemu Tuhan)
- Faktor Lingkungan utama (keluarga. Dengan dinamika & tantangan keluarga hari ini)
- Faktor Komunitas (kualitas katekesis & pendampingan, keteladanan pemimpin)
- Faktor Sakramental & Liturgis (penghayatan sakramen yang hidup)
- Faktor Sosial Budaya (kemampuan bertindak nyata & beradaptasi dengan perubahan)
Pendamping FIBB harus memiliki spiritualitas dan kapasitas yang OK. Spiritualitas Pendamping FIBB : “perjumpaan dengan Yesus membawa suka cita, menggerakkan hati untuk mewartakan”
Kapasitas Pendamping FIBB : 1. Pendamping itu harus banyak “Dolan” 2. Pendamping itu harus berani keluar dari pakem pengajaran. 3. Pendamping itu harus belajar pedagogi & psikologi pendidikan.

Peneguhan Bapa Uskup
Fokus Pastoral 2027
Formatio iman yang fundamental, eklesial, total, dan integrasi
Bahagia ; mengalami kasih Allah, penerimaan, dan persaudaraan
Menginspirasi ; menjadi saksi yang membuka harapan dan menggerakkan kebaikan
Menyejahterakan ; peduli pada sesama, terutama yang rentan, rumah bersama
Arah Formatio adalah umat semakin dekat dengan Yesus. Umat bertumbuh dalam Gereja, pendampingan iman dalam keluarga, kelompok usia, komunitas teritorial dan kategorial. Seperti pada peristiwa Yesus mendekati para murid dan mendengarkan kegelisahan mereka. Perjalanan sabda dan pemecahan roti menolong mereka mengenali kehadiran-Nya. Mereka kembali kepada komunitas dan membagikan kabar suka cita. Berbagi pengalaman perjumpaan dengan Yesus. Formatio dalam semangat sinodalitas, membangun relasi/persekutuan personal yang mesra dengan Yesus. Menjadikan Yesus sebagai orientasi dan sumber kebahagiaan/keselamatan. Bertumbuh dalam persekutuan Gereja, Iman diperdalam dan dihidupi dalam kebersamaan dalam ibadat dan kegiatan bersama. Iman dipahami, dirayakan didoakan dan dihidupi. Semua aktivitas mengarah pada kekudusan & persekutuan dalam Yesus. Keluarga sebagai ruang pertama ; Pastoral Keluarga>orang tua dan keluarga membutuhkan dukungan untuk mendampingi iman di rumah. Pastoral keluarga menjelang-saat-setelah perayaan perkawinan. Doa bersama, percakapan iman, dan teladan kasih kesetiaan, pengampunan, pengorbanan. Perhatian khusus pada keluarga muda, keluarga usia lanjut, dan keluarga yang sedang rapuh membutuhkan pendampingan sesuai kebutuhan. Ruang-ruang lain Formatio adalah kelompok jenjang usia dalam kesinambungan, maka dibutuhkan ketersediaan Katekis-Katekis yang berkompeten, memiliki keterampilan mendengarkan dan memberikan pendampingan. Formatio calon katekis/pendamping dibekali dengan akademis/Pendikat, STPKat. Bina lanjut katekis bergenerasi ; hadirnya calon-calon pendamping baru yang belajar dan praktik bersama. Para katekis melayani sebagai satu tim yang bekerja dan berjalan bersama (melayani dalam semangat sinodalitas)
Kehadiran gembala dan kerja sama, para pastor menyediakan waktu untuk hadir, mendengarkan dan mendampingi termasuk mereka yang jarang terjangkau. Menyusun tanggapan atas kebutuhan dalam bentuk program layanan pastoral untuk menjawab kebutuhan. Akhirnya dari serangkaian TEPAS 2026 ini bagaimana nanti dapat menyusun program kerja 2027 yang diharapkan sesuai kebutuhan umat di paroki masing-masing dengan berdasar ARDAS dan RIKAS “menjadi gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan”. Sekian berkah dalem.
Penulis : Harry_Nug
Foto/Dokumentasi : Komsos Kedu









