Minggu Biasa XXXII, 8 November 2026
Bacaan: Keb. 6:12-17; 1Tes. 4:13-18; Mat. 25:1-13
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil hari ini mengungkapkan bahwa Kerajaan Sorga diumpamakan dengan para gadis yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Mereka adalah lima gadis bijaksana yang membawa pelita sekaligus membawa minyak untuk antisipasi. Lalu lima gadis bodoh hanya membawa pelita tanpa ada persediaan minyak.
Pelita (Yunani: lampas) adalah obor yang memakai minyak zaitun sebagai bahan bakarnya. Pertanyaannya, kenapa lima gadis bijaksana itu pelit dan tidak mau berbagi minyak zaitun? Soalnya bukan egois atau tidak, pelit atau tidak, tetapi mereka dihadapkan pada hal praktis. Jika cadangan minyak yang terbatas itu dibagi-bagi, maka mereka semua tidak bisa ikut prosesi sampai ke rumah mempelai pria dengan pelita tetap bernyala.
Hal ini tentu suatu aib dan memalukan. Hal ini menjadi penilaian bahwa pihak mempelai perempuan tidak mempersiapkan diri dengan baik. Maka bagi Tuhan Yesus, penolakan mereka untuk berbagi minyak adalah sikap yang bijaksana karena memikirkan kepentingan yang lebih besar bagi keluarga mempelai.
Yang namanya kebijaksanaan itu tidak bisa dibeli di manapun. Tidak ada supermarket, pasar atau toko online yang menjualnya. Kebijaksanaan juga tidak muncul secara instan. Tetapi kebijaksanaan adalah sebuah anugerah Tuhan sekaligus kebiasaan (habitus) yang terus-menerus dihidupi dan diperjuangkan dengan tekun dari hari ke hari.
Latihan untuk membedakan roh / gerak batin (discernment) dalam diri kita adalah upaya untuk menjadi bijaksana. Penting kita terus berlatih membedakan: mana yang baik atau tidak, mana yang mendesak atau bisa ditunda, mana yang penting atau hanya tambahan, dsb. Kalau sudah dihidupi dan menjadi milik, kebijaksanaan itu selalu bersinar dan tidak dapat layu.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana upaya kita untuk menjadi pribadi yang semakin bijaksana dalam hidup ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr



