Kamis, 5 November 2026
Bacaan Injil: Luk 15:1-10
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Sukacita dan bersyukur menjadi tanda bahwa orang itu beriman. Orang tersebut mempunyai energi positif yang luar biasa. Bahkan sukacita atau syukur bisa menciptakan aura positif dalam kehidupan bersama.
Menurut peta kesadaran diri yang disampaikan David R. Hawkins, Ph.D dalam buku “Power Vs Force”, diungkapkan bahwa level sukacita itu berada dalam nilai atau score 540. Energi positifnya sangat tinggi. Bahkan level sukacita ini ada di atas level cinta (nilai 500).
Sukacita juga dialami oleh pemilik domba dan pemilik dirham yang disampaikan Tuhan Yesus dalam perumpamaan hari ini. Sang pemilik domba bersukacita karena dombanya yang hilang ditemukan. Sang pemilik dirham juga bersukacita karena dirhamnya yang hilang ditemukan.
Sebagai rasa syukur atas sukacita ditemukannya domba atau dirham yang hilang itu, mereka mengundang para sahabat dan tetangganya untuk berkumpul dan berpesta. Biasanya ada makanan dan minuman.
Sukacita yang dibagikan itu membawa berkah. Sukacita itu bisa nyetrum atau menular. Bahkan bisa dirasakan oleh banyak pihak. Selain sukacita, semangat belaskasih juga ingin ditunjukkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tersebut. Belaskasih Bapa melahirkan sukacita bagi manusia.
Kita bersyukur karena Allah kita adalah Allah Bapa yang penuh belas kasih. Tuhan Yesus menegaskan bahwa yang bersukacita tidak hanya manusia, tetapi penghuni surga pun bersukacita karena ada orang yang bertobat.
Pertanyaan refleksinya, Pengalaman mana yang membuat hidup kita bersukacita? Bagaimana upaya kita untuk merawat sukacita dalam hidup sehari-hari?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr



