Percik Firman: Hidup yang Bermakna

Twitter
WhatsApp
Email
Merenungkan sabda Tuhan pada Peringatan Wajib Santa Katarina dari Siena hari ini, saya teringatkan akan sosok Didi Kempot atau Dionisius Prasetyo, penyanyi dan pencipta lagu Campur Sari.

Rabu, 29 April 2026

PW St. Katarina dari Siena

Bacaan Injil: Yoh 12:44-50

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Merenungkan sabda Tuhan pada Peringatan Wajib Santa Katarina dari Siena hari ini, saya teringatkan akan sosok Didi Kempot atau Dionisius Prasetyo, penyanyi dan pencipta lagu Campur Sari. Dia diberi sebutan oleh para penggembarnya Sobat Ambyar sebagai “Godfather of Broken Heart’’ atau “Bapak Loro Ati Nasional.”

Sebagai musisi, dia adalah orang yang memulai kisahnya dari jalanan. Ia lahir dari sulitnya hidup di jalanan. Kata “kempot” adalah singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar. Di akhir hidupnya, dia membuat hidupnya dan hidup orang lain bermakna. Dia ingin menjadi “terang” bagi sesamanya. Di dalam Konser Amal dari rumah pada 11 April 2020, lebih dari Rp 5 miliar terkumpul untuk membantu korban Covid-19.

Dia memaknai hidupnya dengan baik. Ia mengisi hidupnya dengan sesuatu yang bermakna. Peduli pada sesama. Dia tidak “mengambyarkan” atau memporakporandakan solidaritas sesama, tetapi menyatukan orang dari berbagai kalangan untuk peduli pada sesama.

Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita akan pentingnya memaknai hidup di dunia ini. Tuhan Yesus menegaskan bahwa eksistensi hidup-Nya di dunia ini untuk menjadi berkat bagi setiap orang yang percaya pada-Nya. Dia datang untuk membawa keselamatan, sukacita dan penghiburan.

Dia hadir di dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadanya tidak tinggal dalam kegelapan. DiungkapkanNya, “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya”.

Santa Katarina (1347-1380) adalah salah satu teladan dalam memaknai hidup ini. Dia meninggal dunia dalam usia relatif muda, 33 tahun. Dari Santa Katarina kita bisa belajar bahwa bukan umur panjang yang menentukan kesucian seseorang, tetapi kualitas hidup dan iman yang ditampakkan dalam hidup sehari-hari.

Dia memaknai hidupnya dengan beriman, menjadi pemersatu dan pendamai. Dia dikenal sebagai seorang biarawati yang mendapat anugerah stigmata luka-luka Yesus. Bahkan dia dipakai Tuhan untuk membawa pulang Paus Gregorius XI dari pembuangan di Avignon (Prancis) ke Roma.

Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja.

Pertanyaan refleksinya, bagaimana kita memaknai hidup di dunia ini? Hal kecil apa yang akan kita lakukan untuk menjadi berkat bagi sesama kita?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr