Percik Firman: Berusaha Konsisten antara Perkataan dan Tindakan

Twitter
WhatsApp
Email
Ada sebuah pepatah Jawa yang berbunyi, “Gajah diblangkoni, isoh kojah ora isoh nglakoni”. Artinya, bisa berbicara tetapi tidak bisa menjalani. Terjadi ketidak-konsistenan antara perkataan dan perbuatan.

Selasa, 3 Maret 2026

Bacaan Injil : Mat 23:1-12

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Ada sebuah pepatah Jawa yang berbunyi, “Gajah diblangkoni, isoh kojah ora isoh nglakoni”. Artinya, bisa berbicara tetapi tidak bisa menjalani. Terjadi ketidak-konsistenan antara perkataan dan perbuatan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus menegaskan pentingnya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan, antara yang luar dan dalam, yang lahir dan yang batin. Yesus tahu tentang bahaya kepemimpinan yang bersifat NATO (No Action Talk Only). Artinya, tidak ada tindakan, hanya ngomong saja.

Kemunafikan itu berbahaya. Tuhan Yesus tidak mau orang banyak dikorbankan dan dijadikan objek tipuan belaka oleh orang Farisi. Dia memberikan teladan bagaimana menghayati pemberian diri total, pelayanan yang rendah hati, tanpa skandal apalagi kemunafikan.

Sangat berbahaya jika tindakan tanpa moral, tanpa etika, penuh kepura-puraan, apalagi motivasinya untuk merebut simpati dan dukungan demi sebuah kepentingan/ambisi tertentu.

Tuhan Yesus tak ingin seorang pemimpin mengorbankan keselamatan banyak orang demi kepentingan pribadi, prestasi dan prestise, kuasa dan ambisi. Yesus sendiri menggembalakan, memimpin, menuntun orang melalui pemberian diri total dan konsisten.

Yesus meminta para murid-Nya agar mereka sungguh-sungguh cermat dalam menyikapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ikuti ajaran mereka, tetapi jangan ikuti perilaku mereka, begitu pesan Tuhan Yesus.

Jangan-jangan kita juga menjadi seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat: hanya berbicara dan mengajarkan atau menganjurkan kebaikan kepada sesama kita, tanpa kita sendiri mau melakukan hal-hal itu.

Hal ini penting menjadi introspeksi diri dan refleksi bagi kita semua di masa Prapaskah ini, baik sebagai orangtua, guru, pastor, pemimpin atau ketua, dsb. Juga menjadi tantangan saya yang setiap saat merenungkan dan membagikan percik firman ke Anda. Jangan-jangan saya juga menjadi gajah diblangkoni tadi.

Pertanyaan refleksinya, seberapa konsisten kita antara perkataan dan tindakan kita selama ini? Apa tantangan untuk konsisten?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr