Percik Firman: Mewujudkan Cinta dalam Tindakan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam Latihan Rohani St. Ignasius,  di bagian pengantar Kontemplasi untuk Mendapat Cinta, diungkapkan bahwa “Cinta lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada kata-kata.”

Kamis, 30 April 2026

Bacaan Injil: Yoh 13:16-20

 

Saudari-saudariku yang terkasih,

Dalam Latihan Rohani St. Ignasius,  di bagian pengantar Kontemplasi untuk Mendapat Cinta, diungkapkan bahwa “Cinta lebih diwujudkan dalam perbuatan daripada kata-kata.”

Sabda Tuhan pada hari mengingatkan kita untuk tidak berhenti pada kata-kata, analisis, atau pemikiran saja. Tetapi cinta harus diwujudkan dalam tindakan yang konkrit. Tuhan Yesus memberi contoh bagaimana melakukan hal-hal konkret dalam hidup-Nya: Ia menyembuhkan, makan bersama, memberi ampun, bahkan memanggul salib. Yesus bukanlah orang yang hanya omong doang atau NATO (No Action Talk Only).

Bacaan Injil hari ini bagian dari kisah tentang Perjamuan Malam Terakhir. Pesan utama Perjamuan Terakhir adalah kasih. Allah kita adalah kasih. Deus caritas est. Kita sebagai pengikut-Nya dipanggil untuk menjadi pembawa kasih itu. Secara khusus hari ini Yesus bersabda, “Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.”

Memahami tindakan Yesus yang membasuh kaki para rasul kiranya menuntun kita pada kesadara kita akan sikap rendah hati dan penyerahan diri secara penuh. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya; atau seorang utusan daripada dia yang mengutusnya.”

Sukacita untuk melayani sesama memang kadangkala bertolak belakang dengan logika orang kebanyakan. Ketika pelayanan dilakukan atas keinginan memperoleh nama besar, penghargaan, dan keuntungan pribadi, apa yang hendak disampaikan Yesus terasa sulit untuk diterima.

Kita sebagai pengikut Kristus diundang untuk melayani dengan cara Allah sendiri. Oleh sebab itu, dalam perbuatan sekecil apapun yang kita lakukan tanpa pamrih bagi sesama kita, Allah turut berkarya melalui diri kita. Dengan mulai melakukan hal-hal sederhana bagi sesama, kita telah ikut ambil bagian dalam pewartaan Kasih Allah. Kita adalah para “misionaris” kasih Allah di dunia.

Pertanyaan refleksinya, Hal konkret apa yang sudah kita lakukan untuk mewujudkan iman kita? Apa saja kontribusi kita yang bisa kita berikan untuk kehidupan bersama yang lebih baik ke depan?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr