Sebanyak 250 peserta dari Kevikepan Kedu dan Surakarta mengikuti Temu Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KAS) di Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan, Rabu (14/10/2026). Peserta terdiri atas imam, biarawan-biarawati, serta perwakilan Dewan Pastoral Paroki dan Stasi bidang Pewartaan, Litbang, dan Programasi. Dimoderatori oleh Romo Yohanes Wahyu Rusmana, Pr., pertemuan ini bertujuan saling berbagi pengalaman karya pastoral sekaligus merancang arah pastoral tahun 2027 di masing-masing paroki.

Fokus pertemuan ini mengacu pada tema karya pastoral KAS 2027, yaitu “Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan: Formasio Iman yang Fundamental, Eklesial, Total dan Integral”. Pada sesi pembuka, Vikaris Jenderal KAS, Romo F.X. Sugiyana, Pr. menegaskan bahwa acara ini diselenggarakan guna memperjelas sasaran strategis pastoral 2027 untuk paroki, lembaga karya, dan komunitas kategorial, khususnya dalam menyiapkan implementasi Formasio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB). Romo Sugiyana menambahkan, buah FIBB adalah umat yang “bertumbuh dalam iman, berbuah dalam hidup”. Untuk mewujudkan FIBB, dibutuhkan program yang berjenjang, berkelanjutan, dan berbasis komunitas, sehingga program yang dirancang membuka ruang perjumpaan di setiap tahap kehidupan dan pendampingan berlangsung tanpa terputus.

Rangkaian acara diisi dengan dua sesi pendalaman materi dan forum diskusi kelompok. Sesi pertama, Romo V. Bondhan Prima Kumbara, Pr. membawakan materi ‘Pengorganisasian FIBB Secara Eklesial, Total, dan Integral’. Pada sesi ini, beliau mengulas pengorganisasian FIBB serta menggarisbawahi pentingnya perjumpaan dan peran keluarga sebagai pilar awal pembinaan iman, agar program paroki membuka ruang perjumpaan dan kepedulian bersama.

Sesi kedua mengangkat tema “Pengembangan Spiritualitas dan Kapasitas Pendamping FIBB” yang dibawakan oleh Dr. Ferdinandus Hindiarto, S.Psi., M.Si. Bapak Ferdinan menekankan bahwa pendamping FIBB adalah pribadi yang menjadi teladan yang memiliki spiritualitas dan kapasitas yang baik. Untuk mewujudkan hal tersebut, pendamping FIBB harus memiliki suka cita menemukan rahmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Sukacita ini menjadi landasan untuk berbagi kasih dan pengajaran bagi sesama. Selain itu, Bapak Ferdinan menekankan bahwa dalam membuat materi pendampingan iman, para pendamping perlu melihat perbedaan dimensi-dimensi antarjenjang baik PIUD, PIA, PIR, POIM, PIOD dan PIUL.

Diskusi kelompok dalam Temu Pastoral ini bertujuan memberi ruang bagi peserta untuk saling bertukar pengalaman konkret dari paroki masing-masing guna memperkaya penyusunan program mendatang.
Pertemuan ini juga ditandai dengan peluncuran instrumen PROMO (Programasi dan Monitoring) oleh Romo Heribertus Suprihadi, Pr., selaku Ketua Programasi Keuskupan Agung Semarang. Instrumen ini dikembangkan untuk membantu paroki dalam mencatat dan memantau pelaksanaan program kerja.

Sebagai penutup, Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, meneguhkan para peserta agar dalam menyusun program paroki, semua pihak selalu bersinergi, berakar pada Arah Dasar (ARDAS) serta kebutuhan riil umat, sembari tetap menjaga kekhasan komunitas di masing-masing paroki. Mgr. Rubi juga menekankan bahwa pastoral keluarga dibutuhkan dan mendapat perhatian khusus, karena keluarga merupakan fondasi pertumbuhan iman setiap pribadi. Beliau juga menambahkan bahwa sangat penting melibatkan generasi muda, termasuk katekis muda, dalam satu tim untuk melayani umat di berbagai jenjang usia dengan semangat sinodalitas.









