Semarang – Sejarah keselamatan manusia menempatkan perempuan sebagai pelaku utama karya keselamatan Allah. Maria dari Nazaret menjadi teladan penting melalui kesediaannya menjawab panggilan Allah. Gereja juga menegaskan bahwa perempuan memiliki martabat yang setara dengan laki-laki dan dipanggil bersama-sama untuk membangun misi penyelamatan. Namun, perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sosial dan kepemimpinan. Data Gender Social Norms Index (GSNI) 2023 menunjukkan bahwa hampir 9 dari 10 orang, baik laki-laki maupun perempuan, masih memiliki setidaknya satu bias terhadap perempuan. Pandangan bahwa laki-laki lebih layak menjadi pemimpin politik maupun bisnis juga masih ditemukan.
Dalam konteks Gereja Katolik, semangat sinodalitas mengajak umat untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, dan mengambil bagian secara aktif dalam misi. Semangat tersebut mendorong sinergi dalam Kelompok Pelayanan Kerasulan Apostolik Kevikepan Semarang, yang terdiri dari Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KPKC), Komisi Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3), Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK), serta Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE).

Berawal dari keprihatinan yang sama itulah dibuat program Sekolah Pemberdayaan Perempuan yang disebut Empowered Her: Empowering Catholic Women for Leadership Academy. Academy ini dirancang sebagai ruang pembinaan bagi perempuan muda rentang usia 25 – 40 tahun di Kevikepan Semarang dengan latar belakang beragam seperti aktivis OMK, profesional muda, guru atau dosen, tenaga medis, penggerak lingkungan, pelaku UMKM maupun ibu muda yang aktif dalam pelayanan. Peserta adalah perempuan dari paroki dan ormaskat yang memiliki ketertarikan nyata pada isu pelayanan, kepemimpinan, pemberdayaan perempuan, sosial kemasyarakatan, atau pengembangan komunitas. Academy ini merupakan ajang selama tiga bulan yang mengintegrasikan spiritualitas, kepemimpinan, komunikasi, manajemen organisasi, literasi digital, advokasi sosial, dan pembangunan jejaring. Peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian Academy akan menyandang sebutan Strong Her, perempuan yang diharapkan mampu menjadi bagian dari perubahan nyata di Gereja dan Indonesia.
Tujuan kegiatan Empowered Her Academy (EHA) yaitu membentuk perempuan muda Katolik yang beriman, berkarakter, dan memiliki jiwa kepemimpinan pelayanan, sehingga mampu menjadi agen perubahan di Gereja, masyarakat, dan ruang kebangsaan. Peserta memiliki spiritualitas kepemimpinan yang kuat, dengan Yesus sebagai model kepemimpinan dan Ajaran Sosial Gereja sebagai landasan geraknya dan mengembangkan kesadaran diri (self-awareness) dan kepercayaan diri publik.
Ekosistem Kaderisasi
Melalui EHA, Pokyan Kerasulan ingin membuat ekosistem kaderisasi Perempuan Muda Pembaru Katolik, yaitu sebuah ekosistem pembinaan berkelanjutan untuk membentuk, mengutus, dan menguatkan perempuan muda Katolik agar menjadi pemimpin yang beriman, berintegritas, dan berdampak. Langkah-langkah yang dilakukan: Pertama, adalah Rekrutmen atau Discover untuk menemukan perempuan muda Katolik di paroki yang memiliki potensi kepemimpinan, semangat pelayanan, dan komitmen untuk bertumbuh. Outputnya adanya calon kader yang terpilih dari berbagai paroki dan komunitas atau ormaskat. Kedua, Academy atau Develop, yaitu pembelajaran intensif melalui silabus kepemimpinan, spiritualitas organisasi, komunikasi advokasi, digital leadership, dan project learning. Output yang diharapkan adalah peserta bertumbuh dalam pengetahuan, ketrampilan, dan karakter kepemimpinan. Ketiga, Perutusan atau Deploy, di mana peserta melakukan “belanja masalah” di lingkungan masing-masing dan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk aksi nyata. Output dari kegiatan ini minimal muncul satu aksi perubahan yang memberi dampak nyata di komunitas. Keempat, Fellowship atau Connect, adanya komunitas alumni yang saling menguatkan, berbagi pengalaman, bertumbuh bersama, dalam persaudaraan dan iman. Output yang diharapkan terbentuk jaringan dan budaya saling menguatkan antar alumni. Kelima, Monitoring atau Measure, di mana dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan RTL, dampak, kendala, serta kebutuhan pendampingan. Outputnya perkembangan menjadi terukur dan pendampingan yang tepat sasaran. Keenam, Mentor atau Multiply, harapannya alumni yang bertumbuh menjadi mentor bagi peserta lain, mendampingi dan menularkan nilai kepemimpinan serta semangat pelayanan. Outputnya adalah terbentuk mentor-mentor baru yang siap mendampingi. Terakhir atau ketujuh, kader baru atau regenerate, lahirnya kader-kader baru yang siap dibentuk, diutus, dan meneruskan estafet kepemimpinan. Outputnya adalah adanya regenerasi kepemimpinan yang berkelanjutan.
Hasil akhir dari ekosistem kaderisasi adalah hadirnya perempuan muda Katolik yang beriman kuat, menjadi pemimpin yang kompeten dan berintegritas, memiliki jaringan lintas paroki yang kolaboratif, membuat aksi nyata yang berdampak bagi gereja dan masyarakat, serta menjadi mentor yang melahirkan generasi pemimpin berikutnya.
Pelaksanaan Academy
Academy dilaksanakan mulai tanggal 25 Juli sampai 4 Oktober 2026, tepatnya 12 kali pertemuan yang dibuat hybrid, yaitu 3 kali pertemuan tatap muka dan 9 kali pertemuan secara daring, dilaksanakan setiap hari Selasa pukul 19.00 – 21.00 WIB.

Selama 3 bulan pembinaan dibagi dalam beberapa fase. Pertama fase akar, yaitu ada di pertemuan pertama sampai ketiga. Pertemuan pertama dilaksanakan dengan tatap muka. Pokyan Kerasulan menyampaikan kepada peserta mengapa kegiatan ini dibuat dan setelah mengikuti kegiatan, apa yang bisa dilakukan oleh para peserta. Dalam pertemuan pertama hadir Romo Adolfus Suratmo Atmomartoyo, Pr., selaku Ketua Pokyan Kerasulan sekaligus Ketua Komisi KPKC, Romo Yohanes Wicaksono, Pr., sebagai Ketua Pelaksana Academy dan Ketua Komisi PK3, dan Romo FX. Suhanto, Pr., Ketua Komisi HAK Kevikepan. Di tengah-tengah acara hadir Vikep Semarang, Romo JB. Rudy Hardono, Pr. memberikan sapaan kepada peserta dan menyemangati untuk tekun mengikuti pembinaan. Dari target peserta 40 orang, sampai akhir peserta yang setia mengikuti pembinaan ada 34 orang. Pertemuan kedua dan ketiga dilaksanakan secara daring. Pertemuan kedua peserta diajak untuk belajar dari Yesus. Tema Berakar Dalam Iman: Yesus, model Pemimpin sejati, diberikan oleh Romo YR. Edy Purwanto, Pr. Fokus utamanya adalah Yesus sebagai model Pemimpin dilihat dari Ajaran Sosial Gereja. Pertemuan ketiga dengan tema She Knows Her Worth: Membangun Kepercayaan Diri yang Kokoh, yang disampaikan oleh Dr. Lita Widyo Hastuti seorang dosen Fakultas Psikologi SCU, dengan fokus utama Public Confidence – self awareness and growth mindset.

Fase kedua adalah fase bangkit, ditempatkan pada pertemuan keempat sampai keenam. Pertemuan keempat dan kelima masih dilaksanakan secara daring. Ibu Irine Yusiana Roba seorang anggota DPR RI menjadi pembicara pertemuan keempat dengan mengangkat tema Speak Up, Lead Up: Berkomunikasi yang menggerakkan. Fokus utama dari tema ini adalah komunikasi empatik dan public speaking dasar. Di pertemuan kelima Panitia mengundang Dr. Jeanne Froncoise yang berprofesi sebagai dosen dan menjabat Staf Madya Kantor Kepresidenan untuk memberikan materi dengan tema Breaking the Ceiling: Perempuan memimpin di Tengah Masyarakat, dengan fokus utama perspektif kritis dan kepemimpinan inklusif. Dari fase kedua ini diakhiri dengan pertemuan tatap muka yang diselenggarakan pada tanggal 29-30 Agustus 2026 di Griya Familia Bandungan, dipandu oleh Dr. Ferdinandus Hindiarto dan tim. Bapak Ferdi membagi pertemuan dalam sesi materi dan sesi outbound dengan tujuan penguatan pribadi peserta dan membangun organisasi yang kuat. Melalui outbond yang dilakukan, peserta diajak untuk berani menghadapi persoalan dan mencari solusi bersama-sama demi meraih tujuan. Setelah outbond peserta diajak untuk membuat refleksi pribadi tentang manfaat yang didapat setelah mengikuti EHA dari awal sampai pertengahan, dan tekad yang dibuat setelah mengikuti EHA sampai selesai.
Fase ketiga adalah fase bergerak, ada di pertemuan ketujuh sampai kesebelas. Lima pertemuan ini dilaksanakan secara daring. Di pertemuan kelima hadir Theresia Triza Yusino yang merupakan salah seorang pengurus atau anggota Badan Pengurus di Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan (KGPP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Beliau memaparkan materi dengan tema Speak for The Voiceless: Advokasi Sebagai Gaya Hidup, di mana fokus utama pembahasan tentang advokasi sosial dan analisis sosial. Selanjutnya di pertemuan ke delapan panitia menggandeng salah satu anggota tim UPP Komunikasi KAS, yaitu Priscilia Panti Meyrina. Mbak Panti, demikian Beliau biasa dipanggil, memaparkan tentang Lead in The Figital Age: Membangun Pengaruh di Era Media Digital dengan fokus utama pembahasan etika digital dan personal branding. Hari Selasa berikutnya, tepatnya di pertemuan ke sembilan, hadir Anita Dhewy, seorang jurnalis, peneliti, dan pegiat kesetaraan gender serta hak-hak perempuan. Tema yang diangkat adalah Her Voice, Her Nation: Perempuan dalam Ruang Publik dan Politik dengan fokus perempuan di ruang publik, Pancasila, dan Ajaran Gereja. Pemateri di pertemuan daring selanjutnya adalah dr. Karolin Margret Natasa yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Landak, Kalimantan Barat. Di pertemuan ke sepuluh ini, Beliau menyampaikan tentang Building Her Network: Gerakan yang Lahir dari Kolaborasi, dengan fokus Community organizing dan networking lintas komunitas. Pembinaan terakhir daring atau kesebelas membahas tentang Her Action Plan: Merancang Perubahan yang Nyata, dengan fokus design thinking dan perencanaan aksi nyata. Sesi terakhir daring ini disampaikan oleh Chatarina Rina Purwaningsih, S.Pd seorang praktisi yang lama aktif di Yayasan Kalandara.
Pertemuan sembilan kali secara daring didominasi pembicara perempuan, dengan tujuan para peserta dapat melihat bahwa di luar sana banyak perempuan-perempuan Katolik yang memiliki pengaruh baik di lingkungannya sehingga mereka merasa terpacu untuk semakin meningkatkan kemampuan dalam dirinya dan tergerak mengikuti jejak para pembicara.
Selain itu di dalam pertemuan daring, peserta diberikan kesempatan untuk bertanya kepada pembicara dan mendiskusikan dalam breakout room tugas dari pembicara, bisa dalam bentuk analisa sosial maupun topik-topik tertentu.

Fase terakhir adalah fase berbuah. Fase ini dilaksanakan dengan tatap muka pada tanggal 3 – 4 Oktober 2026 di Rumah Retret Abdi Kristus Ungaran. Kegiatan ini merupakan puncak acara dari seluruh rangkaian EHA, yang dikemas dalam sebuah Rekoleksi Perutusan dengan tema She is Sent : Diutus Sebagai Terang dan Pembaru. Acara dibuka oleh Romo Wicak, dan diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Kemudian dilanjutkan sambutan Romo Ratmo. Dalam sambutannya, Beliau mengucapkan terima kasih karena peserta sudah setia sampai pada titik akhir acara. Beliau menambahkan bahwa ini bukan hanya peserta yang belajar tetapi panitia juga terus belajar dari setiap pertemuan baik pertemuan daring maupun tatap muka. Kita mencoba merangkum butir-butir yang menjadi peran penting dan akan berkelanjutan sehingga menjadi program bersama, tegas Romo Ratmo.

Pada hari pertama, acara dibuka dengan review peserta selama pembelajaran 3 bulan, pemutaran video yang berisi kegiatan daring dan tatap muka, serta sapaan dan ucapan selamat dari Romo Vikep. Setiap komisi diberikan kesempatan presentasi pengenalan komisi, masing-masing dengan durasi 10 menit. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya seputar komisi. Komisi HAK, Komisi KPKC, Komisi PSE dan Komisi PK3 memanfaatkan waktu yang diberikan dengan harapan para Strong Her nantinya ada yang terlibat di komisi. Pertemuan sesi pertama memiliki fokus utama yaitu pembekalan peserta dalam pembuatan rencana tindak lanjut (RTL) setelah perutusan.


Hari kedua, pukul 05.30 WIB para peserta diajak untuk orientasi lapangan yang dibagi dalam 3 lokasi yaitu Alun-Alun Bung Karno Ungaran, depan area Rumah Dinas Bupati Ungaran dan Pasar Ungaran. Tujuan sesi orientasi lapangan supaya peserta dapat melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat. Tiap kelompok diminta untuk wawancara dengan orang yang mereka jumpai, mencari akar permasalahan yang terjadi pada orang tersebut dan sekitar okasi di mana mereka diterjunkan. Setelah itu para peserta mempresentasikan refleksi hasil wawancara narasumber-narasumber di lapangan. Hari kedua merupakan akhir dari seluruh rangkaian Academy maka setiap kelompok membuat rencana tindak lanjut (RTL) yang bersinergi dengan Kelompok Pelayanan Kerasulan sebagai cara untuk mewujudkan aksi dengan terencana, sungguh, dan terlaksana. Seluruh rangkaian academy dipuncaki dengan Misa Perutusan dan penyerahan sertifikat secara simbolis kepada perwakilan kelompok.
Peserta yang telah mengikuti EHA akan dikembalikan ke paroki dan komunitas masing-masing, siap diutus menjadi pribadi yang memberikan perubahan di lingkungan, paroki, dan masyarakat.