Percik Firman: Bahaya Kemunafikan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus mengkritik sikap mereka yang munafik dan gaya hidup orang Farisi serta Ahli Taurat yang “mewah”.

Rabu, 14 Oktober 2026
Bacaan Injil: Luk 11:42-46

Saudara-saudariku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus mengkritik sikap mereka yang munafik dan gaya hidup orang Farisi serta Ahli Taurat yang “mewah”. Bahkan Tuhan Yesus menyampaikan sabda celaka kepada mereka. Mengapa bisa demikian? Karena mereka melupakan hal yang pokok, yakni keadilan dan kasih Allah. “Sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah”, tegas Tuhan Yesus.

Mereka dikritik dan dikecam oleh Yesus karena menekankan hal-hal yang kecil, tetapi mengabaikan hal-hal yang besar. Mereka fanatik hanya dalam bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci. Mereka melupakan roh dan semangat kasih dalam menghayati aturan hidup beragama.

Kita tahu bahwa selasih, inggu, adas manis, dan jintan adalah tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai bumbu. Hal ini hanya merupakan hasil sampingan dari ladang dan hasilnya hanya sedikit. Bahkan harganya pun murah. Meskipun demikian, barang-barang itu juga dikenakan sebagai persepuluhan oleh orang Farisi.

Terkait dengan persepuluhan, misalnya dalam kitab Ulangan dikatakan bahwa orang Israel harus memberikan perpuluhan dari gandum, anggur, minyak dan ternak (Ul 14:23). Gandum, anggur, dan minyak merupakan hasil utama dari ladang. Maka, sangat wajar.

Dalam Ul 14:22 dikatakan “seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu”, dan dalam Im 27:30 dikatakan “segala persembahan persepuluhan dari tanah”. Ahli Taurat dan orang Farisi menafsirkan bahwa hasil dari tanaman seperti selasih, adas manis, jintan, dan inggu, sekalipun hasilnya sangat sedikit, juga harus diberikan persepuluhan.

Hal ini menunjukkan ketaatan Ahli Taurat dan orang Farisi dalam hal-hal yang sangat kecil. Tetapi sayangnya mereka melupakan yang pokok, yakni keadilan dan kasih Allah. Akibatnya, orang-orang kecil terbebani dan semakin menderita sengsara.

Pertanyaan refleksinya, Beranikah kita mengkritik orang atau lembaga yang sudah melenceng dari aturan yang benar? Bagaimana penghayatan kita terkait keadilan dan kasih Allah?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr