Minggu Biasa XXVIII, 11 Oktober 2026
Bacaan: Yes. 25:6-10a; Flp. 4:12-14,19-20; Mat. 22:1-14
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bagaimana rasanya jika kita diundang untuk pesta? Mungkin ada yang merasa senang, terharu, bingung, menolak, atau terbebani. Pada umumnya orang senang jika berpesta, karena bisa makan enak dan bertemu dengan kawan-kawannya.
Tidak demikian dengan orang-orang yang diundang dalam perumpamaan Kerajaan Surga pada hari ini. Dalam Injil hari ini Sang Raja menyampaikan undangan sampai 3 kali. Mereka tidak datang dan menolak dengan aneka alasan. Ada yang sibuk kerja di ladang, mengurus usahanya, bahkan ada yang menangkap utusan sang raja dan menyiksa lalu membunuhnya.
Kita disadarkan bahwa panggilan Allah disampaikan kepada semua orang yang dipanggil. Setiap orang yang mendengarkan firman Allah, yang mendengarkan undangan Yesus untuk datang kepada-Nya adalah orang yang telah dipanggil.
Ada tiga macam tanggapan terhadap panggilan-Nya ini, yaitu: Pertama, mereka yang menolak hadir. Alasan mengapa orang menolak undangan itu tidaklah penting. Yang jelas orang itu telah menolaknya. Kedua, orang yang menerima undangan itu dan hadir. Ketiga, orang-orang yang telah diundang dan hadir ke dalam pesta perjamuan itu, tetapi mereka kemudian dilemparkan keluar karena tidak memenuhi syarat, alasannya adalah karena mereka tidak mengenakan pakaian pesta. Kita kira-kira termasuk di dalam kategori yang mana?
Setiap tamu undangan tidak bisa masuk tanpa mengenakan pakaian pesta. Pakaian pesta tersebut sudah disediakan baginya saat ia memasuki tempat pesta itu. Pada zaman itu, sebuah pakaian pesta tentu sudah disediakan baginya. Sudah merupakan tradisi pada zaman itu untuk menyediakan pakaian pesta bagi undangan yang tidak mampu untuk membelinya. Sebagai contoh, di Kejadian 45:22 dan Hakim-hakim 14:12, kita diberitahu bahwa para tamu diberi pakaian pesta.
Dengan alasan yang tidak dijelaskan, orang itu kemudian memutuskan untuk menanggalkan pakaian pestanya, mungkin karena ia merasa kepanasan; atau karena kecerobohannya ia telah mengotori pakaian itu. Ketika pakaian itu menjadi kotor, mungkin ia malu untuk mengenakannya terus. Tamu undangan ini tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut (ayat 12). Jika ia punya alasan yang baik, tentu ia akan memberi jawaban. Di dalam terang pengajaran Yesus, yang selalu mengarahkan simpatinya terhadap orang-orang miskin, saya yakin bahwa Tuhan pasti akan memaafkannya. Fakta bahwa ia hanya diam saja menunjukkan bahwa ia tahu bahwa ia tidak memiliki alasan yang bisa diterima.
Sebagai pengikut Kristus dan sudah dibaptis, kita harus mengenakan pakaian pesta, yaitu mengenakan Kristus dalam hidup kita. Artinya, cara berpikir, cara berbicara dan cara bertindak kita selaras dengan kehendak dan ajaran Kristus.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana sikap kita terhadap undangan Tuhan untuk terlibat melayani Gereja dan sesama? Sejauh mana kita sudah mengenakan Kristus dalam hidup ini? Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang). # Y. Gunawan, Pr









