Selasa, 6 Oktober 2026
Bacaan Injil: Lukas 10:38-42
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil pada hari ini, Tuhan Yesus mampir ke rumah Marta di kampung Betania. Pada waktu itu Tuhan Yesus dan para murid-Nya sedang dalam perjalanan menuju ke Yerusalem. Nama ‘Betania’ berasal dari bahasa Aram Ibrani (bahasa Ibrani: beit-te’enah, beit berarti rumah; te’enah berarti pohon ara), artinya: rumah dari (pohon) ara. Kampung Betania memang dekat Yerusalem. Jaraknya sekitar 2 mil dari Yerusalem dan terletak 1,5 mil (sekitar 2,4 km) di lereng sebelah tenggara dari Bukit Zaitun.
Saat Yesus mampir, Dia disambut dengan ramah, hangat dan penuh sukacita oleh keluarga Marta-Maria. Mereka berdua menyambut Yesus dengan caranya masing-masing secara khas. Marta menyibukkan diri untuk mempersiapkan segala hidangan (makanan-minuman). Sedangkan Maria dengan nyaman menyambut Yesus melalui kerinduannya mendengarkan ajaran Tuhan Yesus.
Meskipun bentuk dan cara penyambutannya berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi dan mau menunjukkan sikap ramah penuh persaudaraan atas kedatangan Tuhan Yesus di rumah mereka. Di sana terjalin suasana persaudaraan, keakraban, dan kehangatan. Yang mampir merasa senang, dan yang dikunjungi juga senang.
Dalam tradisi mampir itu, terkandung nilai luhur, yakni keramahan dan persaudaraan. Silahturahmi terjalin. Persaudaraan terbangun. Satu sama lain bisa saling menguatkan. Itu pula yang digambarkan dalam bacaan Injil hari ini.
Dalam masyarakat Jawa, kita mengenal ungkapan “Urip ing donya iki mung mampir ngombe”. Artinya, hidup di dunia hanya sementara. Manusia hidup di dunia ini adalah ‘mampir ngombe’ (mampir/singgah untuk sekedar melepas dahaga). Hal ini menggambarkan bahwa dunia ini hanya tempat persinggahan yang sementara.
Meski hanya mampir, tetap ada tugas misi yang harus dijalankan, seperti Tuhan Yesus lakukan di rumah Marta-Maria, yakni bagaimana kehadiran kita membawa sukacita dan memberikan peneguhan satu sama lain. Seberapa lama kita mampir (hidup di dunia) tidak penting. Yang lebih penting, apa yang kita lakukan selama mampir ini dan bagaimana kita memaknai serta mengisi hidup di dunia ini.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana sikap kita jika ada orang yang mampir ke rumah atau komunitas kita? Bagaimana kita mengisi (memaknai) hidup di dunia yang hanya sementara ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang). # Y. Gunawan, Pr









