Percik Firman: Dipanggil Menjadi Pribadi Berbelaskasih

Twitter
WhatsApp
Email
Pada hari ini kita merayakan peringatan fakultatif Santa Faustina (33th: 1905-1938). Dia adalah Rasul Kerahiman Ilahi sekaligus dimasukkan oleh para teolog dalam

Senin, 5 Oktober 2026
PF Santa Faustina
Bacaan Injil: Luk 10:25-37

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Pada hari ini kita merayakan peringatan fakultatif Santa Faustina (33th: 1905-1938). Dia adalah Rasul Kerahiman Ilahi sekaligus dimasukkan oleh para teolog dalam kalangan “Mistikus Gereja”. Pada tanggal 22 Februari 1931, dia mulai menerima pesan kerahiman ilahi dari Kristus dan diminta untuk melukis Gambar Kerahiman Ilahi yang kita kenal selama ini.

Menanggapi permintaan Tuhan Yesus tersebut, Santa Faustina dengan rela mempersembahkan penderitaan pribadinya dalam persatuan dengan-Nya sebagai silih atas dosa-dosa manusia. Dalam hidup sehari-hari ia menjadi pelaku belas kasih, pembawa sukacita dan damai bagi sesama. Dalam suka dukanya, dia selalu mengandalkan Yesus. Maka, kita mengenal ungkapan, “Yesus, Engkaulah Andalanku”.

Santa Faustina memberi kita beberapa inspirasi dalam menjalani kehidupan saat ini, antara lain: Orang berdosa jangan takut menghampiri atau datang pada Allah (BHSF, No. 50); Melakukan tindakan yang kecil dengan cinta yang besar (BHSF, No. 140); Hidup seperti bunga Violet (tidak melukai orang, tetapi menyebarkan keharuman (BHSF, No. 255); dan Kita bukan superman atau superwoman, tetapi semua karena rahmat Tuhan (BHSF, No. 287).

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang orang Samaria yang murah hati. Orang itu sedang dalam perjalanan ke Yerikho dan tergerak untuk menolong orang yang dirampok. Orang Samaria menunjukkan perhatian, belaskasih (compasion), dan kepeduliaan (care) terhadap si korban. Pesan Tuhan Yesus hari ini sangat jelas, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” Pergi untuk apa? Pergi untuk melakukan perbuatan yang baik, pergi untuk menjadi sesama (socius) bagi yang lain, peduli pada orang lain meski tidak dikenal dan mengenal.

Ditegaskan dalam Injil tadi, Yesus bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Di antara 3 orang yang lewat jalan tadi –Imam, orang Lewi, dan orang Samaria–, ternyata orang yang dianggap pengkhianat bangsa justru yang peduli dan menjadi sesama bagi orang yang dirampok.

Tuhan menghendaki tindakan nyata dari kita semua. Iman pada-Nya harus diwujudkan dalam tindakan peduli pada orang yang membutuhkan bantuan. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang berbelas kasih pada zaman ini. Dalam Ensiklik “Dives in Misericordia,” Paus Yohanes Paulus II meminta agar Gereja melakukan tiga hal, yaitu: mengimani dan mewartakan kerahiman Allah, berusaha mengamalkan belas kasihan, dan memohon kerahiman Allah.

Pertanyaan refleksinya, Sejauh mana kita menjadi pribadi yang berbelaskasih selama ini? Apa saja niat kita untuk menjadi sesama bagi orang lain?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr