Jumat Pertama, 4 September 2026
Devosi kepada Hati Kudus Yesus
Bacaan Injil: Luk 5:33-39
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Hari ini adalah hari Jumat Pertama dalam bulan September. Biasanya kita umat Katolik berdevosi kepada Hati Kudus Yesus. Salah satu rasul ‘Hati Kudus Yesus’ adalah Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Dia menerima tugas dari Tuhan Yesus yang menampakkan diri-Nya beberapa kali kepadanya saat Jumat Pertama, untuk menyebarluaskan devosi Hati Kudus Yesus ini.
“Dengarlah, Marga! Hati kudus-Ku bernyala-nyala karena cinta kasih-Ku kepada semua orang. Aku memilih kamu sebagai juru warta-Ku. Sebarkanlah kepada semua orang bahwa Akulah sumber karunia,” sabda Yesus.
Kita semua diundang untuk membuka diri pada Hati-Nya dan juga menerima orang lain apa adanya, termasuk orang yang membenci kita. Buah dari tinggal dalam Yesus adalah hati kita damai. Lalu kedamaian itu jangan dimiliki sendiri. Harus kita pancarkan dan bagikan kepada orang lain.
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus diundang ke suatu perjamuan makan oleh orang Lewi. Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa. Para ahli Kitab dan orang Farisi juga ikut datang. Mereka mengamat-amati Yesus dan para murid-Nya. Mengapa? Karena mereka mewaspadai ajaran-Nya yang tidak sesuai dengan hukum dan peraturan standard mereka.
Mereka berkata kepada Yesus dengan membanding-bandingkan antara para murid Yohanes, para murid orang Farisi dengan para murid-Nya. “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid orang-orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum”.
Pernyataan mereka tentang “puasa” ini secara tidak langsung berisi penghakiman. Mereka mengatakan hal itu bukan sebagai pertanyaan, tetapi sebagai sebuah pernyataan atau tuduhan. Mereka tidak terbuka untuk melihat peristiwa itu dengan cara pandang (mindset) yang baru.
Mereka sudah membanding-bandingkan dan menuduh lagi. Dibanding-bandingkan memang tidak enak dan bisa menyakitkan hati, apalagi sampai dituduh. Jujur, kita juga tidak suka jika dibanding-bandingkan dan dituduh yang tidak mendasar. Iya nggak?
Menghadapi pernyataan dan tuduhan itu, Yesus memberikan teladan kepada kita. Dia bersikap tenang dan tidak emosional. Dia menjawab, “Akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa”.
Untuk mempertegas pengajaran-Nya, Tuhan Yesus menggunakan dua perumpamaan, yaitu: (1) Kain dari baju yang baru ditambalkan pada kain yang lama, di mana kain baru akan koyak karena tidak cocok dengan kain lama. (2) Anggur baru tidak cocok dengan kantong kulit yang tua. Anggur baru justru akan mengoyakkan kantong lama. Anggur baru cocok dengan kantong yang baru.
Tuhan Yesus hendak menegaskan bahwa kehadiran-Nya di dunia adalah untuk membarui segala sesuatu. Kebaruan yang ditawarkan adalah cinta kasih Tuhan harus benar-benar dialami oleh setiap orang. Aturan harus dimaknai dengan cara pandang yang baru.
Hidup baru dalam Kristus hendaknya menjadi kekuatan kita untuk melepaskan hidup dan kebiasaan lama (hidup dalam dosa). Hidup baru dalam Kristus sebagai sumber sukacita dapat diterapkan dalam kebersamaan.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana relasi kita dengan teman-teman selama ini? Apakah dalam diri kita ada kecenderungan membanding-bandingkan orang lain? Semoga Hati Kudus Yesus menginspirasi kita untuk bersikap empatik dan tulus dalam berelasi.
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









