Sabtu, 29 Agustus 2026
PW Kemartiran St. Yohanes Pembaptis
Bacaan Injil: Mrk 6:17-29
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Apakah kita pernah menyimpan dendam pada seseorang? Menurut kesaksian orang yang sering mendampingi pasien yang sedang dalam sakratul maut, mereka yang masih menyimpan dendam dalam hatinya tidak bisa meninggal dengan tenang.
Ia mengalami kesulitan untuk meninggal dunia. Tetapi ketika bisa memaafkan, ia akhirnya bisa meninggal dunia dengan tenang. Wajahnya bercahaya dan tampak damai.
Secara psikologis, banyak studi menunjukkan bahwa menyimpan dendam serta senantiasa berperasaan negatif akan berakibat buruk bagi kesehatan mental kita. Berdasarkan penelitian dari Medical College of Georgia, orang-orang yang mengaku memiliki dendam selama bertahun-tahun akan mengalami peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan: penyakit jantung, hipertensi, maag, sakit punggung, dan sakit kepala.
Bacaan Injil pada Peringatan Wajib Kemartiran Santo Yohanes Pembaptis hari ini mengisahkan dendam yang dialami Herodias kepada Yohanes Pembaptis. Diungkapkan, “Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat.”
Kita tahu, Herodias adalah isteri dari Filipus, yang kemudian diambil oleh Raja Herodes menjadi isterinya. Padahal Filipus adalah saudaranya Raja Herodes sendiri. Ora ilok! Tidak pantas! Sungguh perbuatan yang tidak etis.
Atas tindakan yang tidak etis itu, Yohanes mengkritik keras di hadapan umum. Akibatnya, Yohanes ditangkap dan dipenjara. Dendam Herodias pada Yohanes memuncak dengan kematian Yohanes yang dipenggal kepalanya saat Sang Raja mengadakan pesta.
Relikwi tengkorak kepala Santo Yohanes Pembaptis itu sekarang disimpan di gereja Santo Silvester, sekitar 700 meter dari Kampus Universitas Kepausan Gregoriana Roma. Relikwi itu diletakkan di dalam tabernakel kaca.
Kisah tentang kemartiran Yohanes Pembaptis dalam Injil hari ini terjadi di Benteng Makherontes, tempat peristirahatan milik Herodes di dekat Laut Mati. Secara liturgis, pesta hari ini disesuaikan dengan pembangunan gereja Santo Yohanes Pembaptis di Sebaste, Samaria. Yohanes menjadi martir karena memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran dalam pewartaannya. Dia dengan lantang menyuarakan kritik kenabian.
Memang tidak mudah untuk menerima kritik. Tidak mudah memaafkan mereka yang sudah mengkritik dan mempermalukan kita di depan umum. Kita sebagai orang beriman diharapkan dapat bertumbuh dalam kasih, yaitu untuk tidak membalas kemarahan dengan kemarahan, kritik dengan kritik. Ketika dikritik, kita tidak perlu menyimpan dendam. Sebagai orang yang dewasa, kita perlu berterimakasih atas kritikan yang ada demi kebaikan kita.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana sikap kita jika ada orang yang mengkritik kita? Seberapa berani kita menyuarakan kebenaran dalam hidup bersama?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang)
Y. Gunawan, Pr









