Percik Firman: Hidup seperti Kuburan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus kembali mengecam sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan sangat keras. Mereka sama dengan kuburan yang dilabur putih.

Rabu, 26 Agustus 2026
Bacaan Injil: Mat 23:27-32

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus kembali mengecam sikap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dengan sangat keras. Mereka sama dengan kuburan yang dilabur putih.

Ditegaskan, “Kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.”

Di mata Tuhan Yesus para ahli Taurat dan kaum Farisi seperti kuburan. Mereka hanya peduli pada hal-hal yang lahiriah saja. Perilaku mereka tidak mencerminkan hal yang batiniah. Kenyataan yang tampak dan yang di hati tidak selaras.

Hidup mereka benar-benar keropos karena perilaku penuh dusta, arogansi (sombong), egois, serakah, penuh hawa nafsu dan kebencian. Mereka tak peduli pada sesama, terutama para janda, kaum kecil, lemah, miskin, dan tersingkir.

Kuburan yang dilabur putih berarti kuburan yang dicat dengan kapur putih. Mengapa orang Yahudi melabur kuburan mereka?

Bagi orang Yahudi, menyentuh kuburan, bahkan secara tidak sengaja, akan membuat mereka najis. Dan setahun sekali biasanya mereka mengecat putih kuburan-kuburan pada masa menjelang perayaan Paskah.

Menjelang Paskah, semua orang ingin ikut merayakannya. Namun jika mereka menyentuh kuburan, hal itu akan membuat mereka terhalang dalam mengikuti perayaan Paskah. Untuk menghindari kenajisan itu, mereka melabur putih kuburan-kuburan.

Mungkinkah kita juga seperti para ahli Taurat atau orang Farisi, yang nampak bersih, rapi dan indah di bagian luar, tetapi bagian dalam, hati dan jiwa serta pikiran kita busuk? Seandainya demikian, marilah kita menyadarinya, segera bertobat dan memperbaiki diri.

Pertanyaan refleksinya, bagaimana kesan kita terhadap kuburan selama ini? Apa yang perlu kita usahakan agar dapat hidup baik secara lahiriah dan batiniah?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr