Percik Firman: Yang Rapuh Dipilih Allah

Twitter
WhatsApp
Email
Bacaan Injil pada peringatan wajib Santo Gregorius Agung (540-604), Paus dan Pujangga Gereja hari ini, mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus memanggil dan melibatkan orang-orang yang biasa dan sederhana untuk membantu karya pelayanan-Nya.

Kamis, 3 September 2026
PW St. Gregorius Agung
Bacaan Injil: Luk 5: 1-11

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil pada peringatan wajib Santo Gregorius Agung (540-604), Paus dan Pujangga Gereja hari ini, mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus memanggil dan melibatkan orang-orang yang biasa dan sederhana untuk membantu karya pelayanan-Nya. Mereka adalah para nelayan di daerah pantai danau Genesaret-Galilea. Mereka merasa tidak pantas untuk tugas yang mulia itu.

Yang menarik adalah sikap Simon Petrus. Ketika Simon Petrus melihat banyaknya ikan yang ditangkap, ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Di sana ada kerendahan hati atau pengakuan diri sebagai orang yang rapuh, tak berdaya, tak pantas, orang yang berdosa, dan orang yang lemah.

Tetapi jika Tuhan menghendaki, tak ada yang mustahil. Petrus dibentuk dan diubah Tuhan. Dari penjala ikan ia dan teman-temannya dipanggil dan diutus untuk menjadi penjala manusia. Kerapuhan dan kelemahan manusiawi dipersembahkan pada Tuhan. Tuhan pasti menyempurnakannya dalam perjalanan waktu.

Pelayanan dilaksanakan tidak hanya mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi selalu membuka diri akan campur tangan rahmat Allah. Dan Tuhan Yesus menegaskan, “Jangan takut!” Singkatnya, perlu ada kerja sama antara manusia dengan Allah.

Kepercayaan mengandalkan rahmat Tuhan itu pula yang dihayati oleh Santo Gregorius Agung. Selama 14 tahun ia memimpin Gereja dalam situasi yang tidak mudah. Meskipun ia selalu sakit, Gregorius merupakan salah seorang paus terbesar Gereja. Dia paus ke-64.

Ia menulis banyak buku dan dikenal sebagai pengkhotbah yang ulung. Ia mencurahkan perhatiannya kepada segenap umat manusia. Ia menggubah, mengumpulkan dan membukukan lagu-lagu Liturgi hingga sampai saat ini nyanyian liturgi tersebut masih tetap diasosiasikan dengan dirinya (Lagu-lagu Gregorian).Dia menganggap dirinya sebagai abdi semua orang. Dia adalah paus pertama yang menggunakan gelar “Hamba dari para Hamba Tuhan” (Servus Servorum Dei). Semua paus sesudahnya menggunakan gelar ini.

Dia memberikan perhatian serta cinta kasih istimewa kepada orang-orang miskin serta orang-orang asing. Setiap hari ia biasa menjamu mereka dengan makanan yang enak. Paus Gregorius juga amat peka terhadap penderitaan orang banyak yang disebabkan oleh ketidakadilan.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana sikap kita –dalam kerapuhan dan keterbatasan– jika dilibatkan Tuhan dalam karya pelayanan-Nya?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr