Percik Firman: Pentingnya Perjumpaan Pribadi dengan Yesus

Twitter
WhatsApp
Email
Pengalaman pribadi kita dengan Tuhan Yesus akan menentukan pemahaman dan gambaran siapa Tuhan Yesus bagi kita

Minggu Biasa XXI, 23 Agustus 2026
Bacaan: Yes. 22:19-23; Rm. 11:33-36; Mat. 16:13-20

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Pengalaman pribadi kita dengan Tuhan Yesus akan menentukan pemahaman dan gambaran siapa Tuhan Yesus bagi kita. Pemahaman seseorang akan Yesus dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya, sudut pandangnya, dan pengalaman personal dengan Yesus. Setiap orang bisa memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus bertanya kepada para murid, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Lalu Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Mesias artinya yang terurapi. Orang yang terurapi dikenal sebagai Sang Pembebas, Juru Selamat.

Yesus adalah Mesias Sang Juru Selamat yang harus menderita, wafat dan bangkit. Para murid perlu disiapkan untuk menghadapi peristiwa tersebut, karena iman mereka akan tergoncang. Mereka harus menghadapi kenyataan yang memaksa mereka mengubah total mindset yang selama ini mereka yakini tentang Yesus.

Yang menarik, setelah Petrus menegaskan siapa Yesus, dia diberi nama baru, kepercayaan dan kuasa kunci oleh Tuhan Yesus. Simon Petrus yang rapuh dipilih menjadi pemimpin Gereja dan memainkan peranan penting dalam kehidupan jemaat Gereja awal. Tugas kepemimpinan itu tidak mungkin hanya diberikan kepada Petrus saja.

Perannya sebagai batu karang, yaitu untuk meneguhkan iman para murid lainnya, diberikan juga kepada para pengganti Petrus (para Paus). Mengapa? karena Yesus, Sang Pendiri Gereja, menghendaki agar Gereja tetap hidup, bahkan bertumbuh dan berkembang sepanjang zaman dan seluas dunia.

Petrus diserahi kunci Kerajaan Surga. “Kunci” merupakan simbol kekuasaan atau otoritas. Dengan menerima kuasa itu bukan berarti Petrus diberi kewenangan untuk menentukan siapa yang boleh masuk surga dan siapa yang tidak. Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa kunci maksudnya berhak menafsirkan kehendak Allah dalam Kitab Suci. Menyatakan bahwa sesuatu dilarang atau diperbolehkan, dipertahankan atau dibatalkan. Menentukan apa yang mengikat dan tidak mengikat, wajib dan tidak wajib. Semua itu dimaksudkan untuk melindungi seluruh jemaat dari kekuatan jahat dan dari kesesatan.

Seperti Petrus, kita juga tidak sempurna. Kita mempunyai kerapuhan dan keterbatasan. Tetapi jangan takut untuk terlibat dan dipakai Allah untuk karya pelayanan-Nya. Kalau ada pemilihan ketua lingkungan, pengurus Dewan Pastoran Paroki atau pemilihan prodiakon, tak jarang orang merasa tidak pantas dan ada aneka macam alasan.

Orang menjadi jaya endha (menghindar), sastra gedek (menolak), atau prawira muntir (berkelit dengan aneka alasan). Di sinilah tantangannya! Kita diajak untuk tidak menyerah dengan kerapuhan dan kelemahan kita. Kita percaya, Tuhan pasti akan melengkapi dan menyempurnakan kekurangan kita.

Pertanyaan refleksinya, Siapakah Yesus bagi hidup kita saat ini? Apa saja kebanggaan kita sebagai orang Katolik?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr