Percik Firman: Bermurah Hati Vs Iri Hati

Twitter
WhatsApp
Email
Iri hati adalah salah satu dari 7 dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang dapat menyebabkan dosa-dosa yang lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain.

Rabu, 19 Agustus 2026
Bacaan Injil: Mat 20:1-16a

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Iri hati adalah salah satu dari 7 dosa pokok. Dosa pokok adalah dosa yang dapat menyebabkan dosa-dosa yang lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk yang lain.

Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1866, Santo Yohanes Kasianus dan Santo Gregorius Agung mengajarkan 7 dosa pokok, yaitu: kesombongan, ketamakan, kemurkaan, percabulan, kerakusan, kemalasan, dan iri hati.

Iri hati (bahasa Latin: invidia) adalah suatu kekecewaan atau kecemburuan atas keuntungan orang lain, menghendakinya secara tidak terbatas, dan memiliki sendiri hartanya atas cara yang tidak adil. Santo Gregorius Agung mengatakan bahwa iri hati menimbulkan kedengkian, fitnah, hujat, kegirangan akan kesengsaraan sesama, dan menyesalkan keberuntungannya (KGK no. 2539). Lawan dari iri hati adalah kebaikan hati atau kemurahan hati.

Bacaan injil hari ini menampilkan sikap orang-orang upahan di kebun anggur yang iri hati sekaligus menampilkan pribadi sang pemilik kebun anggur yang murah hati. Mereka yang bekerja sejak pagi mengeluh dan merasa iri hati dengan orang yang berkerja hanya mulai sore hari. Upahnya sama: sedinar sehari!

Diceritakan dalam injil: “Ketika mereka menerima upah sedinar, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: ‘Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.”

Ada dua hal yang menarik dari perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur ini. Pertama, sikap manusia. Pekerja itu melambangkan manusia. Manusia memiliki sifat iri kepada Allah dan sesama. Manusia iri karena Allah mencintai semua manusia dan ingin menyelamatkannya.

Selain iri kepada Allah, manusia juga iri kepada sesama. Kita terkadang tidak suka dengan orang berdosa yang tiba-tiba bertobat dan menjadi lebih baik dari diri kita. Kita kadang kala iri hati dengan kesuksesan teman kita.

Kedua, sikap Allah. Allah bersikap murah hati dan peduli. Allah bertindak dengan adil dan konsekwen. Keadilan Allah ditunjukkan dengan adanya kesepakatan di awal (upah sedinar sehari).

Ada ahli Kitab Suci yang mengatakan bahwa sesungguhnya upah yang dimaksudkan di sini adalah ganjaran atau hadiah dari Tuhan, yakni ketika kita masuk surga kelak. Yang terpenting adalah kita semua umat Allah, bisa masuk surga. Jangan kita pikirkan, mengapa orang yang tiba-tiba dibaptis lalu meninggal dan bisa masuk surga, diperlakukan sama dengan orang yang sudah sejak kecil menjadi orang Katolik?

Hal ini hanya bisa dipahami bila kita mengenal dan meyakini bahwa Allah adalah Bapa yang Murah hati. Murah hati berarti apa yang kita terima dari Allah bukan karena kebaikan (budi baik) kita, tetapi semata-mata karena kebaikan dan belas kasih Allah. Kita menerima anugerah keselamatan bukan karena jasa kita, melainkan karena kemurahan hati Allah.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana situasi batin kita terhadap sesama akhir-akhir ini (bermurah hati atau iri hati)? Apa yang kita lakukan jika dikuasai sikap iri hati?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang)

Y. Gunawan, Pr