Jumat, 14 Agustus 2026
PW St. Maksimilianus Maria Kolbe
Bacaan Injil: Mat 19:3-12
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Ajaran Gereja tentang kesucian perkawinan bersumber dari sabda Tuhan Yesus dalam bacaan injil hari ini: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Hidup berkeluarga adalah panggilan yang suci dan mulia.
Gereja menyadari martabat luhur perkawinan. Maka perkawinan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh melalui kursus persiapan perkawinan, adanya surat baptis terbaru, penyelidikan kanonik dengan pastor, dan diumumkan 3x di gereja.
Banyak orang bilang bahwa menikah itu gampang, tetapi merawat perkawinan itu yang tidak gampang. Butuh komitmen dan kesetiaan dari hari ke hari. Juga butuh kerendahanhati untuk siap mengampuni pasangan yang bersalah setiap saat. Hidup perkawinan harus dirawat setiap hari.
Kesetiaan dalam merawat hidup perkawinan dan juga hidup panggilan hidup imamat membutuhkan komitmen kita dan campur tangan rahmat Tuhan. Seperti dalam bacaan Injil hari ini, ada orang yang memilih tidak menikah demi Kerajaan Allah. Meski ada kerapuhan manusiawi, hidup para imam dan biarawan/wati dipersembahkan kepada Allah dan Gereja-Nya.
Kerapuhan manusiawi perlu disadari dan diakui. Sekaligus perlu dipersembahkan kepada Tuhan. Diri kita ini seperti bejana tanah liat yang mudah rapuh dan pecah. Perlu ada kerja sama dari usaha kita manusia dan rahmat Tuhan.
Pada hari ini Gereja merayakan Santo Maksimilianus Maria Kolbe (1894-1941). Ia adalah imam Fransiskan Conventual yang luar biasa. Dia tulus dalam bertutur kata dan bertindak. Dia tulus membantu sesamanya. Bahkan dia secara tulus menggantikan seorang bapak yang mau dihukum mati di kamp konsentrasi Auschwitz Polandia.
Ketika seorang tahanan bernama Francis Gajowniczek hendak dieksekusi mati, ia menangis sambil menyebut anak dan isterinya. Pastor Maksimilianus merasa kasihan pada bapak itu. Lalu ia meminta kepada pimpinan tahanan agar bisa menggantikan bapak itu. Dia tulus dan rela berkurban nyawa untuk menyelamatkan bapak itu dan keluarganya. Permohonan itu pun dikabulkan.
Selama tiga minggu, Pastor Maksimilianus dan beberapa tahanan lainnya dibiarkan kelaparan hingga mati di sebuah ruang kecil pengab. Pada 14 Agustus 1941, Maksimilianus meninggal dunia setelah disuntik mati menggunakan asam karbonat di Auschwitz.
Saat mengunjungi kamp Auschwitz tahun 2019, saya masuk ke kamar meninggalnya Santo Maksimilianus ini dan kamar ribuan orang meninggal dunia di kamar gas tersebut. Ada rasa merinding saat masuk ke tempat itu. Saya berdoa mohon kedamaian jiwa-jiwa mereka yang meninggal di kamp Auschwitz itu.
Pastor Maksimilianus diangkat menjadi santo oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 10 Oktober 1982. Gereja mengangkatnya sebagai martir zaman modern. Dia memberi kita teladan tentang pentingnya merawat komitmen dan iman kepada Kristus.
Pertanyaan refleksi, Apa tantangan terberat yang pernah dihadapi dalam merawat keluarga, iman dan panggilan? Bagaimana upaya yang dilakukan untuk bisa berkomitmen dalam hidup ini?
Santo Maksimilianus Maria Kolbe, doakanlah kami. Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang) # Y. Gunawan, Pr









