Percik Firman: Harta sebagai Sarana Keselamatan

Twitter
WhatsApp
Email
Kekayaan (harta) adalah sarana untuk mengabdi Allah dan mencintai sesama. Kita memang membutuhkannya selama hidup di dunia ini. Kekayaan bukan tujuan, tetapi sarana keselamatan.

Selasa, 18 Agustus 2026
Bacaan Injil: Mat 19:23-30

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Kekayaan (harta) adalah sarana untuk mengabdi Allah dan mencintai sesama. Kita memang membutuhkannya selama hidup di dunia ini. Kekayaan bukan tujuan, tetapi sarana keselamatan.

Melalui sabda Tuhan hari ini kita diingatkan untuk menggunakan kekayaan dengan bijaksana, agar tidak menjadi penghambat bagi kita masuk ke dalam surga. Kita perlu lepas bebas dan tidak lekat dengan kekayaan duniawi.

Sabda Tuhan Yesus “Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” menjadi pesan simbolis bagi kita. Apakah memang demikian? Yang bener aja, Tuhan. Mungkin begitu komentar spontan kita.

Pada zaman Tuhan Yesus hidup sekitar tahun 30 Masehi, di kota Yerusalem terdapat pintu darurat model lorong memanjang dan bagian atasnya melengkung seperti lubang jarum. Biasanya ketika pintu gerbang utama kota telah ditutup pada sore hari, pintu darurat model lubang jarum ini akan digunakan sebagai pintu keluar masuk ke kota Yerusalem. Pintu darurat model lubang jarum ini biasanya dijaga oleh dua pengawal.

Karena pintu ini cukup sempit dan rendah bagi seekor unta, maka seluruh barang bawaan harus diturunkan. Saat barang-barang itu diturunkan dan unta itu ditarik oleh tuannya masuk ke dalam pintu lobang jarum dengan keadaan lorong yang gelap, hampir tidak ada masalah. Mengapa? Karena unta termasuk ketegori hewan yang jinak, taat dan penurut kepada tuannya. Bukan model binatang yang ‘ngeyelan’ atau melawan.

Pernyataan Tuhan Yesus tersebut menjadi pengingat kita semua untuk berani melepaskan kelekatan-kelekatan duniawi yang kiranya dapat menghambat kita masuk ke Kerajaan Allah. Kekayaan, jabatan, harta benda, aneka gelar yang kita terima adalah sarana, bukan tujuan hidup kita. Bagaimana semuanya itu berdimensi sosial dan menjadi berkat bagi kita dan sesama.

Marilah kita mensyukuri apapun yang kita miliki. Marilah kita berusaha menggunakannya dengan sebaik-baiknya dan menjadikannya sebagai sarana untuk keselamatan jiwa kita, sarana mengabdi Tuhan, dan sarana mengasihi sesama kita. Juga mari kita terbuka diatur Tuhan, taat pada kehendak-Nya, dan tidak “ngeyelan”.

Ada nasihat bijak yang kiranya baik untuk kita renungkan. Diungkapkan, “Janganlah kita sombong dengan rumah megah kita, karena rumah kita yang terakhir adalah kuburan atau tempat abu jenasah. Jangan sombong dengan gelar kita, karena gelar terakhir kita adalah almarhum atau almarhumah. Jangan sombong dengan mobil kita, karena mobil yang akan kita pakai terakhir adalah mobil ambulan”.

Pertanyaan refleksi, Bagaimana sikap kita terhadap harta atau kekayaan selama ini? Sejauhmana keterbukaan kita untuk dibimbing Tuhan dalam hidup ini?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang)

Y. Gunawan, Pr