MAGELANG,KEDU – Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santa Maria Fatima Magelang telah menggelar Sarasehan Motivation Leadership pada Minggu, 19 Juli 2026.
Perhelatan itu mengambil tema “Aku Siap (Wani) Melayani”, adapun acara tersebut menjadi ruang refleksi bersama bagi para pelayan umat dalam lingkungan paroki.
Sarasehan tersebut mengajak Dr. Ferdinand Hindiarto, S.Psi., M.Si., Dosen Fakultas Psikologi sekaligus Rektor Soegijapranata Catholic University periode 2021-2025, sebagai pembicara utama.
Ketua Bidang Litbang Dewan Pastoral Paroki Santa Maria Fatima, Emanuel Wibowo Arif Rahmanto, menjelaskan bahwa acara ini merupakan kelanjutan dari sarasehan serupa tahun lalu.
“Kami ingin kembali menggugah dan menyegarkan semangat melayani bagi para anggota DPPH, Pengurus Tim Pelayanan, Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, hingga seluruh pengurus lingkungan,” ungkap pria yang akrab disapa Bowo ini.
Mencintai Perutusan Hingga “Wani Nggetih”
Dalam sambutan pembukanya, Romo Paroki Santa Maria Fatima, Romo Ignatius Adi Sapto Wibowo, Pr, mengajak seluruh peserta untuk meneladan sikap Yesus yang selalu siap menanggapi perutusan- Nya. Umat diajak untuk merefleksikan kembali kepercayaan yang telah diberikan, lalu mencintai tugas pelayanan tersebut.
Romo Adi menekankan bahwa ketika rasa cinta terhadap tugas perutusan itu sudah tumbuh, maka rasa berani akan muncul dengan sendirinya. Beliau bahkan menggunakan istilah yang mendalam: “Wani Nggetih” sebuah ungkapan yang menggambarkan totalitas, keberanian, dan kesiapan untuk berkorban demi pelayanan yang tulus.

Melayani dan Bahagia: Kebahagiaan yang Dirancang
Adapun materi yang disampaikan oleh Dr. Ferdinand Hindiarto yakni membedah korelasi penting antara pelayanan dan kebahagiaan melalui prinsip “Karena melayani, aku bahagia.” Menurutnya, pelayanan yang tulus hanya bisa lahir dari pribadi yang bahagia, dan kebahagiaan itu sendiri sebenarnya bisa dirancang.
Dalam konteks pelayanan pastoral, Ferdinand membaginya ke dalam dua dimensi penting: Kesenangan (Pleasure) yakni. Pelayanan yang bersifat menyenangkan, yang kerap kali masih bersinggungan dengan aspek materi atau kenyamanan psikologis. Selanjutnya Kebermaknaan (Purpose). Pelayanan yang membawa manfaat nyata dan makna hidup. “Pelayanan akan benar-benar bermanfaat jika kita melepas ego. Bukan sebagai sarana mencari
panggung, bukan untuk mendapat pujian, dan bukan untuk flexing rohani. Manfaat itu lahir jika kita
mempersiapkan dan memberikan yang terbaik,” tegas Ferdinand.
Tidak hanya menyentuh aspek motivasi spiritual, sarasehan ini juga membekali para pengurus dengan prinsip kerja yang efektif demi mencapai tujuan paroki. Ferdinand memaparkan lima pilar
- Selaras dengan Tujuan Besar (ARDAS): Setiap program harus bermuara pada perwujudan Arah Dasar (ARDAS) Keuskupan, yaitu membangun Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.
- Indikator Terukur: Memiliki target dan parameter keberhasilan yang jelas.
- Terorganisasi dengan Baik (Well-Organized): Meliputi siklus perencanaan (planning), persiapan yang matang, eksekusi, evaluasi, hingga perbaikan berkelanjutan.
- Komunikasi Efektif: Membuka ruang dialog yang sehat dan transparan antar-pengurus.
- Kepedulian & Empati (Care & Empathy): Menjadikan tim pelayanan sebagai komunitas yang saling mendukung, bukan sekadar rekan kerja formal.
Selepas menjelaskan panjang lebar dalam setiap sesi hari itu, Ferdinand memberikan tantangan secara terang-terangan kepada peserta yang hadir’’ Wani po ora?’’. Pertanyan dalam bahasa jawa yang berarti ‘’berani atau tidak?’’
Penulis: Herning Palmono
Editor: Masukanulis









