Kisah Kitab Suci Dihidupkan Lewat Storytelling BKSN di Paroki Jetis

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI JETIS – Tim Pelayanan Kerasulan Kitab Suci Bidang Pewartaan Paroki Santo Albertus Agung Jetis Yogyakarta menggelar lomba storytelling dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, Minggu (20/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Baru Gereja Jetis itu diikuti 11 peserta dari lingkungan dan kelompok calon Krisma remaja.

Penampilan peserta dinilai tiga juri, yakni Suster Lusiana ADM, Suster Theresia Rima Mali SJMJ, dan Suster Francisco CB. Peserta membawakan kisah Kitab Suci dengan mengembangkan ekspresi dan kreativitas dalam penyajiannya.

Hasil penjurian menetapkan Lingkungan Ignatius Cokrodiningratan sebagai juara pertama, Lingkungan Paulus Jatimulyo sebagai juara kedua, dan kelompok Krisma Remaja 2 sebagai juara ketiga.

Romo Paroki Santo Albertus Agung Jetis, Romo Yohanes Kristiyanto, Pr, mengatakan lomba tersebut menjadi salah satu cara untuk membantu anak-anak dan kaum muda menghidupkan pesan Kitab Suci melalui kreativitas.

Menurut Romo Kristiyanto, Pr kisah dalam Kitab Suci dapat diterjemahkan dalam bentuk penampilan yang lebih hidup. Ia berharap peserta tidak hanya menyampaikan kisah, tetapi juga mampu menghadirkan makna yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan bersama.

Salah satu peserta tampil penuh ekspresi dalam Lomba Storytelling BKSN 2026 Paroki Jetis, menghidupkan kisah Kitab Suci melalui kreativitas.

Para juri mengapresiasi kreativitas peserta dalam membawakan kisah Kitab Suci. Mereka menilai sejumlah peserta mampu tampil ekspresif dan menyampaikan pesan dengan jelas, sementara beberapa peserta masih perlu meningkatkan kemampuan artikulasi karena faktor gugup saat tampil.

Romo Kristiyanto, Pr menilai keberagaman cara peserta membawakan kisah Kitab Suci menjadi bagian penting dalam lomba tersebut. Kisah yang sama dapat ditampilkan dengan cara berbeda sesuai kreativitas dan pemahaman masing-masing kelompok.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan orang tua dan pengurus lingkungan dalam mendampingi peserta mempersiapkan penampilan. Dalam evaluasi kegiatan, Romo Kristiyanto, Pr menyebut sarana pendukung, terutama perangkat suara, masih dapat dioptimalkan untuk kegiatan berikutnya.

Romo Kristiyanto, Pr mengatakan pengalaman mengikuti lomba juga menjadi bagian dari proses belajar bagi anak-anak dan kaum muda. Menurut dia, peserta perlu belajar menyikapi kemenangan maupun kekecewaan secara tepat sebagai bagian dari dinamika kehidupan.