Katekese di Jetis: Persaudaraan Dibangun lewat Kepedulian dan Perjumpaan Nyata

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI JETIS — Katekese Kitab Suci pertemuan kedua di Gereja St. Albertus Agung Jetis, Yogyakarta, mengajak umat memperkuat persaudaraan melalui kepedulian dan kehadiran nyata dalam kehidupan bersama. Pesan tersebut disampaikan Romo Yohanes Kristiyanto, Pr, dalam katekese bertema “Merajut Persaudaraan, Meraih Investasi Langit”, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan berlangsung di ruang pertemuan lantai 2 Gedung Baru Gereja St Albertus Agung Jetis dan diikuti 38 umat yang terdiri atas prodiakon, katekis, serta umat. Pertemuan menggunakan Matius 25:31–46 sebagai salah satu dasar refleksi mengenai sikap manusia terhadap sesama.

Romo Kristiyanto, Pr menjelaskan, Kitab Suci perlu dibaca dengan memperhatikan konteks dan keseluruhan perikop. Cara tersebut membantu pembaca memahami gagasan utama teks sehingga pesan yang disampaikan tidak berhenti pada pemaknaan satu ayat secara terpisah.

Pesan mengenai persaudaraan, menurutnya, berkaitan erat dengan cara umat membangun kehidupan bersama. Komunitas yang mengikuti ajaran Yesus tidak membiarkan anggotanya menghadapi kesulitan seorang diri. Orang yang lapar perlu diberi makan, sementara mereka yang mengalami kekurangan perlu mendapat perhatian dan pertolongan.

Persaudaraan tersebut menjadi penting di tengah perubahan pola hubungan sosial. Romo Kristiyanto, Pr menyebut kehidupan masyarakat saat ini semakin “cair”, dengan hubungan antarmanusia yang banyak berlangsung melalui teknologi digital dan media sosial.

Perkembangan teknologi, termasuk penggunaan berbagai platform komunikasi dan kecerdasan buatan, memang memudahkan orang berinteraksi. Namun, kemudahan tersebut tidak sepenuhnya menggantikan perjumpaan secara langsung. Kehadiran, perhatian, dan keterlibatan dalam kehidupan komunitas tetap dibutuhkan untuk membangun hubungan yang lebih nyata.

Katekese Kitab Suci di Gereja St Albertus Agung Jetis mengajak umat memperkuat persaudaraan melalui kepedulian dan perjumpaan nyata.

Romo Kristiyanto, Pr juga mengaitkan kehidupan bersama dengan pemahaman Kristiani mengenai kebahagiaan. Kebahagiaan dalam ajaran Yesus tidak semata-mata diukur dari kekayaan, kedudukan, atau keberhasilan, tetapi juga dari relasi dengan Allah dan kepedulian terhadap sesama.

Nilai persaudaraan kemudian perlu diwujudkan melalui sikap saling menghormati, kejujuran, konsistensi, kepedulian, pengampunan, serta kesediaan membangun perdamaian. Persaudaraan juga tidak dibatasi oleh hubungan keluarga atau kelompok tertentu, tetapi terbuka kepada orang lain, termasuk mereka yang berbeda atau pernah berkonflik.

Katekese tersebut mengajak umat membawa nilai-nilai itu ke dalam kehidupan keluarga, lingkungan, dan komunitas Gereja. Pemahaman Kitab Suci diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi dasar bagi tindakan konkret dalam membangun kehidupan bersama yang saling memperhatikan.