Di tengah suasana teduh Gua Maria Bunda Penolong Abadi, Stasi Pojok, Paroki Santo Petrus dan Paulus Klepu, para pengelola tempat ziarah dari berbagai wilayah Kevikepan Yogyakarta Barat berkumpul dalam sebuah perjumpaan yang sederhana namun sarat makna. Minggu, 7 Juni 2026, menjadi momentum penting ketika Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Yogyakarta Barat menyelenggarakan Sarasehan Edukasi dan Formasi ARDAS 2026 bagi Pengelola Tempat Ziarah dan Komunitas Mitra KKPKC.
Kegiatan ini dihadiri oleh pengelola berbagai tempat ziarah dan taman doa di wilayah Kevikepan Yogyakarta Barat, antara lain Gua Maria Ratu Perdamaian Sendang Jatiningsih, Gua Maria Lourdes Sendangsono, Taman Doa Maria Bunda Gereja Jurang Metes, Taman Doa Maria Mater Dei Bonoharjo, Gua Maria Sub Tutela Matris Ponggol, Sumur Kitiran Mas Pakem, serta sejumlah pengelola tempat ziarah lainnya. Turut hadir pula komunitas mitra KKPKC seperti Talitha Kum Jaringan Yogyakarta, Komunitas Pinilih, dan Komunitas Cagar Urip.
Namun sejak awal, sarasehan ini tidak dirancang sebagai forum formal yang dipenuhi paparan materi satu arah. KKPKC Kevikepan Yogyakarta Barat tidak menempatkan diri semata-mata sebagai pihak yang memberikan pemahaman mengenai ARDAS 2026 kepada para peserta. Sebaliknya, forum ini dibangun sebagai ruang sapaan, ruang perjumpaan, dan ruang permenungan bersama, di mana seluruh peserta diajak untuk membaca, menghayati, dan menerjemahkan ARDAS dalam realitas pelayanan yang mereka jalani sehari-hari.

Kesadaran tersebut berangkat dari keyakinan bahwa ARDAS tidak akan sungguh hidup apabila hanya dipahami sebagai dokumen pastoral atau rangkaian program kerja. ARDAS menemukan maknanya ketika menjadi pengalaman bersama umat Allah. Karena itu, para pengelola tempat ziarah dan komunitas mitra tidak hadir sebagai pendengar pasif, melainkan sebagai subjek yang turut memperkaya pemaknaan ARDAS melalui pengalaman, tantangan, dan praktik baik yang telah mereka hidupi dalam pelayanan di lapangan.
Dalam semangat itulah sarasehan berlangsung. Setiap peserta diberi ruang untuk berbagi cerita mengenai dinamika pengelolaan tempat ziarah, pelayanan kepada peziarah, penguatan komunitas, kepedulian terhadap lingkungan hidup, hingga upaya menjadikan tempat ziarah sebagai ruang edukasi iman. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian menjadi bahan refleksi bersama untuk melihat bagaimana nilai-nilai ARDAS sesungguhnya telah bertumbuh dalam beragam bentuk pelayanan yang dijalankan di masing-masing tempat.
Ketua KKPKC Kevikepan Yogyakarta Barat, Romo Thomas Ari Wibowo, Pr., dalam sesi sarasehan menegaskan bahwa pertemuan ini merupakan bagian dari upaya menyelaraskan pelayanan tempat ziarah dengan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang (ARDAS) 2026–2030 yang mengusung tema Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan. Ia mengajak seluruh pengelola tempat ziarah untuk melihat ARDAS bukan sekadar dokumen pastoral, melainkan arah bersama yang perlu dihidupi dan diterjemahkan dalam pelayanan konkret sehari-hari.
Menurut Romo Bowo, tempat ziarah memiliki posisi yang istimewa dalam kehidupan Gereja. Di tempat-tempat inilah umat tidak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga mencari ketenangan, harapan, dan penguatan iman. Karena itu, tempat ziarah dipanggil menjadi ruang yang menghadirkan sukacita Injil, memberi inspirasi melalui pelayanan yang tulus, dan membawa kesejahteraan bagi kehidupan umat maupun masyarakat di sekitarnya.
Refleksi tersebut menemukan bentuk konkretnya ketika para peserta bergantian membagikan pengalaman masing-masing. Setiap tempat ziarah ternyata memiliki kisah dan tantangannya sendiri.
Dari Sendang Jatiningsih, para pengelola berbagi pengalaman mengenai upaya menjadikan tempat ziarah bukan hanya sebagai lokasi devosi, tetapi juga sebagai ruang edukasi iman. Mereka telah menyusun pedoman pengelolaan, membentuk tim edukasi dan evangelisasi, serta mengembangkan berbagai sarana pembelajaran rohani bagi para peziarah. Tahun 2026 juga menjadi momentum istimewa bagi Sendang Jatiningsih yang akan memperingati empat puluh tahun perjalanan pelayanannya.
Pengelola Gua Maria Sub Tutela Matris Ponggol menceritakan proses membangun tata kelola yang lebih terstruktur meskipun tempat ziarah tersebut baru memiliki kepengurusan resmi dalam beberapa tahun terakhir. Dengan memanfaatkan media sosial dan belajar dari tempat-tempat ziarah lain, mereka berupaya memperluas pelayanan sekaligus menjaga suasana doa yang menjadi kekhasan lokasi tersebut.
Sementara itu, pengelola Sendangsono membagikan pengalaman panjang dalam mengelola salah satu tempat ziarah tertua dan paling dikenal di Indonesia. Menariknya, selain berbicara mengenai pelayanan peziarah, mereka juga menyoroti pentingnya kesejahteraan para pekerja dan relawan. Berbagai kebijakan pengelolaan diterapkan untuk memastikan para karyawan dapat bekerja dengan baik, berkembang secara pribadi, dan merasakan manfaat nyata dari pelayanan yang mereka lakukan.
Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa pengelolaan tempat ziarah dewasa ini tidak lagi cukup dipahami sebatas penyediaan fasilitas ibadah. Tempat ziarah semakin dituntut menjadi ruang pembelajaran iman, pemberdayaan sosial, penguatan komunitas, hingga pengembangan kepedulian ekologis.
Tema lingkungan hidup menjadi salah satu perhatian yang mengemuka dalam sarasehan. Banyak tempat ziarah berada di kawasan yang dekat dengan mata air, sungai, maupun wilayah konservasi alam. Karena itu, kelestarian lingkungan bukan sekadar isu tambahan, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan itu sendiri.
Romo Bowo mengingatkan bahwa semangat ARDAS juga mengandung panggilan untuk membangun kepedulian terhadap keutuhan ciptaan. Gereja dipanggil tidak hanya menguduskan manusia, tetapi juga ikut merawat bumi sebagai rumah bersama. Kesadaran ini selaras dengan berbagai gerakan ekologis yang sedang berkembang di lingkungan Gereja, termasuk ajakan untuk melakukan pertobatan ekologis dan mengembangkan paroki hijau.
Perspektif tersebut semakin diperkaya oleh kehadiran Komunitas Cagar Urip yang selama beberapa tahun terakhir bergerak dalam pelestarian mata air dan penghijauan kawasan hulu. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa perlindungan lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan tempat-tempat ziarah yang banyak bergantung pada kelestarian alam di sekitarnya.

Selain isu lingkungan, sarasehan juga membuka ruang diskusi mengenai aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, penguatan pelayanan sosial, tata kelola tempat ziarah, hingga pengembangan jejaring antar pengelola. Kehadiran Komunitas Pinilih yang mendampingi penyandang disabilitas dan kelompok rentan memberikan perspektif baru tentang pentingnya menciptakan tempat ziarah yang semakin inklusif dan ramah bagi semua orang.
Suasana forum yang hangat membuat para peserta tidak hanya berbagi keberhasilan, tetapi juga tantangan yang mereka hadapi. Ada yang masih berjuang menyelesaikan aspek legalitas dan administrasi tempat ziarah. Ada yang sedang melakukan penataan kawasan. Ada pula yang tengah berupaya memperluas pelayanan melalui berbagai program rohani dan sosial. Dari perjumpaan inilah muncul kesadaran bahwa setiap tempat ziarah sesungguhnya dapat saling belajar dan saling menguatkan.
Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah terbangunnya komitmen untuk mempererat koordinasi dan jejaring antar pengelola tempat ziarah serta komunitas mitra KKPKC di wilayah Kevikepan Yogyakarta Barat. Melalui komunikasi yang lebih intensif, para peserta berharap dapat berbagi pengalaman, bertukar inspirasi, bahkan mengembangkan kolaborasi pelayanan di masa mendatang.
Sarasehan ini sekaligus menjadi langkah awal dalam mewujudkan sasaran strategis KKPKC Kevikepan Yogyakarta Barat untuk meningkatkan pemahaman para aktivis dan pengelola tempat ziarah mengenai visi, nilai, dan arah gerak ARDAS 2026. Namun lebih dari sekadar sosialisasi, forum ini menjadi ruang bersama untuk merenungkan bagaimana ARDAS dapat dihidupi secara nyata dalam konteks pelayanan masing-masing.
Melalui dialog yang terbuka dan partisipatif, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman baru, tetapi juga menemukan dukungan, inspirasi, dan penguatan satu sama lain. Dari perjumpaan tersebut tumbuh kesadaran bahwa perjalanan menghidupi ARDAS bukanlah tugas yang harus dijalani sendiri-sendiri. Ia merupakan gerak bersama seluruh umat Allah yang saling belajar, saling menopang, dan saling menguatkan dalam menghadirkan Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.
Di tengah berbagai tantangan zaman, mulai dari perubahan sosial, krisis lingkungan, hingga menurunnya budaya perjumpaan, tempat-tempat ziarah tetap memiliki peran penting sebagai ruang harapan. Tempat-tempat ini bukan hanya destinasi rohani, tetapi juga titik temu antara iman, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap ciptaan.
Melalui Sarasehan Edukasi dan Formasi ARDAS 2026 ini, KKPKC Kevikepan Yogyakarta Barat ingin menegaskan kembali bahwa merawat tempat ziarah pada akhirnya bukan sekadar merawat bangunan atau kawasan. Yang sedang dirawat adalah ruang-ruang di mana iman bertumbuh, harapan dipelihara, dan persaudaraan terus dirajut.
Dari Stasi Pojok, para peserta pulang bukan hanya dengan pemahaman yang lebih utuh tentang ARDAS 2026, melainkan juga dengan kesadaran bahwa arah dasar Gereja hanya akan bertumbuh menjadi gerakan yang hidup ketika dihayati bersama. Dalam perjumpaan yang hangat, mereka menemukan bahwa menghidupi ARDAS bukanlah pekerjaan satu lembaga atau satu komunitas, melainkan perjalanan bersama yang menuntut kesediaan untuk saling mendengarkan, saling belajar, dan saling menguatkan. Sebab pada akhirnya, Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan mensejahterakan hanya dapat terwujud ketika umat berani berjalan bersama dan menghadirkan kasih Allah dalam tindakan nyata.









