Umat Lingkungan St. Alfonsus Diajak Bertumbuh dalam Semangat Ngemong, Momong lan Nggendong

Twitter
WhatsApp
Email

PAROKI JETIS – Syukuran Pesta Nama Pelindung Santo Alfonsus Maria de Liguori menjadi momentum bagi umat Lingkungan St. Alfonsus untuk memperkuat kebersamaan sekaligus merefleksikan kehidupan iman dalam paguyuban. Perayaan yang berlangsung Jumat, 14 Agustus 2026 itu diikuti 67 umat dari berbagai kelompok usia, mulai anak-anak, remaja, dewasa, orang tua hingga lansia.

Pesta Nama Santo Alfonsus yang secara liturgis diperingati setiap 1 Agustus tersebut dirayakan bersama pada 14 Agustus karena menyesuaikan dengan berbagai agenda lingkungan. Perayaan tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas perjalanan Lingkungan St. Alfonsus, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat kembali semangat persaudaraan yang telah dibangun umat.

Syukuran tersebut dirangkai dengan Pertemuan Lingkungan yang rutin dilaksanakan setiap bulan. Dalam pertemuan itu, umat mengikuti sarasehan kebangsaan bertema “Setiap Orang Ada Zamannya” yang mengajak umat memahami panggilan sebagai orang Katolik sekaligus bagian dari bangsa Indonesia.

Sosok Y.B. Mangunwijaya menjadi salah satu inspirasi dalam sarasehan tersebut. Pemikiran dan perjalanan hidupnya ditempatkan sebagai bahan permenungan bahwa iman dan kecintaan terhadap bangsa tidak perlu dipertentangkan. Pertumbuhan iman justru diharapkan mendorong umat semakin peduli terhadap sesama, lingkungan, masyarakat dan bangsa.

Romo Yohanes Kristianta, Pr., dari Paroki St. Albertus Agung Jetis mengajak umat bertumbuh dalam iman melalui kebersamaan dan kehidupan paguyuban.

Kehadiran Romo Yohanes Kristianta, Pr., dari Paroki St. Albertus Agung Jetis turut memperkuat pesan mengenai pentingnya pertumbuhan iman dalam kehidupan paguyuban. Dalam wejangannya, Romo Kris mengingatkan bahwa lingkungan menjadi tempat umat saling mengenal, memperhatikan, menguatkan dan bersama-sama belajar menghidupi iman.

Pesan tersebut juga dikaitkan dengan semangat pelayanan “Ngemong, Momong lan Nggendong” yang menjadi salah satu pokok refleksi dalam perayaan. Ngemong dimaknai sebagai kesediaan hadir dan menjaga dengan perhatian, Momong sebagai sikap merawat, mendampingi dan membimbing dengan kesabaran serta kasih, sedangkan Nggendong menggambarkan kesediaan menopang mereka yang membutuhkan dukungan dalam perjalanan bersama.

Semangat tersebut menempatkan kepemimpinan dalam lingkungan bukan semata-mata pada kedudukan, melainkan pada kesediaan untuk melayani. Para pengurus diharapkan mampu mendengarkan, memahami, merangkul dan berjalan bersama umat yang memiliki pengalaman serta kemampuan yang beragam.

Perayaan Pesta Nama Santo Alfonsus juga menjadi pengingat bahwa kehidupan menggereja tidak berhenti pada kebersamaan di lingkungan atau gereja. Kasih yang dihidupi dalam iman diharapkan mengalir dalam kehidupan bermasyarakat sehingga iman tidak hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian dan pelayanan kepada sesama.

Bagi Lingkungan St. Alfonsus, perjalanan untuk menjadi komunitas yang dewasa dalam iman masih terus berlangsung. Kebersamaan, sikap saling menjaga, menguatkan dan mendampingi menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan sebagai rumah bersama yang guyup, rukun, terbuka dan mampu menjadi berkat bagi Gereja, masyarakat serta sesama.

Penulis: Andreas PN