PAROKI PUGERAN — Upaya mengurangi bau menyengat dari aliran sungai kecil di belakang Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran terus dilakukan pengurus dan umat Paroki Pugeran bersama dosen dan peneliti Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Salah satu langkah yang ditempuh yakni menggunakan ekoenzim dan biokatalit untuk membantu mengurangi bau yang muncul akibat proses pembusukan bahan organik.
Gerakan tersebut dimulai pada akhir Juli 2026, bertepatan dengan momentum Hari Sungai. Hingga Jumat (14/8/2026), penuangan dan penyemprotan ekoenzim serta biokatalit telah dilakukan sebanyak lima kali pada aliran sungai di belakang gereja.
Pada Jumat (14/8/2026), Wakil Ketua Dewan Paroki Pugeran J. Hernando memimpin penyemprotan bersama umat dan Tim Kecintaan Lingkungan Hidup Paroki Pugeran. Kegiatan sebelumnya dipimpin Romo Sukendar dengan pendampingan Kianto Atmodjo, dosen Biologi UAJY.
Dalam kegiatan tersebut, umat tidak hanya diajak melakukan aplikasi ekoenzim dan biokatalit, tetapi juga mendapat pendampingan untuk membuat kedua bahan tersebut serta memahami prinsip pemanfaatannya.

Kianto menjelaskan, bakteri asam laktat (BAL) dan metabolit yang dihasilkannya berpotensi membantu proses penguraian bahan organik sekaligus menghambat mikroorganisme pembusuk tertentu. Karena itu, penggunaan ekoenzim dan biokatalit perlu dilakukan secara konsisten dan disertai pemantauan kualitas air serta sumber pencemar.
Hasil awal mulai dirasakan umat yang tinggal di sekitar aliran sungai. Sejumlah umat menyampaikan bau menyengat berkurang setelah dilakukan penyemprotan. Namun, bau kembali muncul ketika aplikasi tidak dilakukan selama beberapa hari, meski intensitasnya menurut pengamatan warga mulai berangsur menurun.
Siapkan Gerakan Bersama pada September
Paroki Pugeran juga merencanakan tindak lanjut yang lebih luas pada September 2026. Gerakan tersebut akan melibatkan umat, warga sekitar, pemerintah kalurahan, serta Pemerintah Kota Yogyakarta.
Rencana kegiatan mencakup pemetaan aliran dan sumber pencemar, pembersihan sungai, edukasi pengelolaan limbah rumah tangga, pelatihan pembuatan ekoenzim dan biokatalit, serta pemantauan kualitas air secara berkala.
Upaya mengurangi bau menjadi salah satu langkah awal dalam penanganan persoalan aliran sungai tersebut. Penanganan selanjutnya diarahkan pada pemahaman terhadap sumber pencemar dan kondisi sungai, sehingga upaya pemulihan tidak hanya dilakukan melalui penyemprotan.
Gerakan lingkungan tersebut juga ditempatkan dalam semangat Laudato Si’, yakni kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama. Paroki Pugeran berencana memperluas keterlibatan masyarakat dan berbagai pihak dalam upaya merawat sungai serta lingkungan di sekitarnya.
Penulis : Kianto Atmodjo








