Umat Katolik Jatimulyo Gelar Katekese Kebangsaan: Belajar Menjadi Katolik dan Indonesia dari Romo Mangun

Twitter
WhatsApp
Email

Paroki Jetis – Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan mengenang 118 tahun Kebangkitan Nasional, umat Katolik Lingkungan Santo Paulus Jatimulyo, Paroki Jetis, Yogyakarta, menggelar Katekese Kebangsaan, Minggu (9/8/2026). Bertempat di Ruang Terbuka Hijau (RTH) RT 02 Kricak, Jatimulyo, kegiatan mengangkat tema “Belajar Menjadi Katolik dan Indonesia dari Romo Y.B. Mangunwijaya.”

Katekese kali ini dikemas dengan nuansa berbeda. Jika biasanya katekese lingkungan berlangsung malam hari dan diadakan di dalam ruangan, kegiatan kali ini dilaksanakan di ruang publik dengan suasana santai, terbuka, dan melibatkan berbagai kelompok usia. Sebanyak 48 peserta, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia, mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas melalui permainan, ice breaking, refleksi, dan diskusi kelompok.

Dipandu Ketua Lingkungan dan para prodiakon, umat diajak merefleksikan hubungan antara iman Katolik dan kehidupan sebagai warga Indonesia. Tiga pertanyaan menjadi bahan permenungan: nilai iman Katolik apa yang membuat umat bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia; inspirasi apa yang diperoleh dari kehidupan Romo Mangun tentang menjadi Katolik dan Indonesia; serta aksi nyata apa yang dapat dilakukan untuk menjadi garam dan terang di lingkungan sekitar.

Sosok Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, atau yang dikenal dengan nama Romo Mangun, menjadi inspirasi utama. Lahir di Ambarawa pada 6 Mei 1929, Romo Mangun dikenal sebagai imam, arsitek, sastrawan, pendidik, dan pejuang kemanusiaan. Ia pernah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan sebagai Tentara Pelajar dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada 8 September 1959.

Keteladanan Romo Mangun terasa semakin dekat bagi umat Paroki Jetis. Ia pernah berkarya dan mengabdikan diri sebagai imam di paroki tersebut serta terlibat dalam pembangunan dan pengembangan Gereja Jetis tahun 1980 – 1986.

Keberpihakannya kepada masyarakat kecil tampak dalam pendampingannya terhadap warga bantaran Kali Code, Yogyakarta. Ia membantu menata permukiman agar lebih layak dan manusiawi, sebuah karya yang kemudian meraih Aga Khan Award for Architecture pada 1992. Ia juga mendampingi masyarakat terdampak pembangunan Waduk Kedungombo, dengan memilih hadir, mendengarkan, dan berjuang bersama mereka.

Melalui katekese ini, umat diajak memahami bahwa iman tidak berhenti pada doa dan perayaan di gereja. Iman dipanggil untuk hadir dalam kehidupan nyata: peduli kepada sesama, berpihak kepada yang kecil, merawat persaudaraan, dan mencintai tanah air.
Di akhir kegiatan, umat lingkungan Paulus mewujudkannya dengan aksi kepediulian pemberian sembako kepada umat yang membutuhkan bantuan, serta pembagan makanan kepada masyarakat sekitar RTH. Antusiasme peserta selama 2 jam kegiatan, menunjukkan bahwa katekese dapat dikemas secara kreatif dan terbuka. Ruang publik pun dapat menjadi tempat untuk belajar, berbagi, dan menghidupi iman.
(Wempi)