Semarang – Dalam rangka HUT ke-60 Kevikepan Semarang, diselenggarakan Sarasehan Budaya dengan tema “Gereja, Evangelisasi dan Budaya”. Kegiatan ini berlangsung di Balai Budaya dan Kebangsaan Omah Srawoeng pada hari Kamis, 17 September 2026.

Acara dialogis yang dikemas dalam suasana outdoor dan hangat ini dihadiri oleh para tamu undangan yang terdiri dari: para Romo di Rayon Kota (Barut dan Timsel), budayawan dan seniman, serta tokoh masyarakat setempat. Para tamu undangan disambut oleh penampilan musik keroncong dari Tjong De Gust (Keroncong nDherek Gusti) yang berasal dari Paroki Banyumanik.

Sarasehan dibuka dengan doa pembuka oleh Romo FX. Suhanto, Pr., Pastor Paroki Sambiroto. Kemudian dilanjutan dengan penampilan Tari Gembira yang dibawakan oleh Gaby, siswi Sanggar Tari Omah Srawoeng dengan berkebutuhan khusus (Down Syndromme) yang memiliki semangat untuk berlatih seni tari.

Dalam sambutannya, Romo JB. Rudy Hardono, Pr., Vikep Semarang menyampaikan bahwa acara ini digelar untuk menjawab pergulatan antara iman dan kebudayaan yang telah berlangsung sejak abad-abad awal sejarah gereja. Beliau juga menambahkan, perayaan HUT Kevikepan Semarang tahun ini tidak digelar secara besar-besaran agar dampaknya terasa lebih nyata dan menyapa umat secara langsung.
“Dalam rangka ulang tahun ke-60 Kevikepan Semarang, tepatnya tanggal 7 Oktober, dan kita sengaja tidak membuat acara-acara yang besar, kita ingin membuat acara-acara yang lebih kecil tapi di berbagai tempat, supaya dampaknya ini makin terasa,” jelas beliau.

Sesi diskusi interaktif ini dipandu oleh moderator Romo Antonius Banu Kurnianto, Pr., Pastor Paroki BSB, dengan menghadirkan narasumber Romo Prof. Dr. C.B. Mulyatno, Pr. dan sharing atau refleksi kontekstual dari Prof. Dr. dr. Hardhono Susanto, PAK.
Romo Mulyatno mengusung gagasan “teologi dari bawah” dan memperjelas peran gereja sebagai “rumah budaya”. Beliau menegaskan bahwa gereja adalah komunitas murid yang terus belajar, peka pada konteks sosial, serta senantiasa bertumbuh di tengah masyarakat yang multikultural. Sedangkan Prof Hardhono memaparkan materi berjudul “Melibatkan Budaya dalam Membangun Iman”, yang mengulas rekam jejak inkulturasi dalam bentuk arsitektur gereja, tradisi lokal, hingga pengolahan seni pertunjukan seperti wayang orang, ketoprak, dan musik keroncong sebagai media pembumian iman.
Melalui diskusi dan dinamika tanya jawab, sarasehan ini menghasilkan rekomendasi bersama agar Balai Budaya Omah Srawung terus dirawat sebagai simpul perjumpaan budaya sekaligus etalase karya seni dan refleksi iman. Ruang terbuka ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi ad-intra maupun ad-extra yang konsisten dalam membangun gerakan kebudayaan yang adil, inklusif, dan semakin memanusiakan manusia.
Gereja didorong untuk menjadi wadah yang menghargai identitas budaya umatnya sekaligus membangun kemanusiaan yang lebih adil dan harmonis. Acara ditutup dengan harapan agar komunitas ini terus menjadi simpul kreatif bagi pengembangan iman yang berakar kuat pada nilai-nilai tradisi nusantara.
Keseruan Sarasehan Budaya dapat disimak melalui highlight berikut: