Sabtu, 1 Agustus 2026
PW St. Alfonsus Maria de Liguori (Uskup dan Pujangga Gereja)
Bacaan Injil: Mat 14:1-12
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk peka akan suara hati kita. Suara hati tidak lain adalah suara Tuhan. Dengan semakin mengasah kepekaan kita terhadap suara hati, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa dan matang.
Sayangnya, hal ini tidak terjadi dalam diri Raja Herodes, isterinya, dan anak perempuannya. Mereka tuli dan tidak peka akan suara hatinya. Mereka lebih dikuasai sakit hati, dendam, dan kebencian pada Yohanes Pembaptis yang telah menegur, mengkritik dan mengingatkan mereka. Mereka mengambil pilihan untuk membunuh sang Nabi.
Anak perempuan mereka juga tidak kritis. Mudah dihasut oleh ibunya. Keluarga Herodes bisa dibilang sebagai keluarga yang “tidak bisa berdiskresi dengan baik”.
Hari ini, awal Agustus, kita merayakan Santo Alfonsus Maria de Liguori (1696-1787). Dia salah satu teladan yang peka akan mendengarkan suara hati dalam hidupnya. Ia lahir dan tumbuh besar dalam keluarga bangsawan Katolik yang saleh di Napoli, Italia. Sebelum masuk seminari, ia sudah bekerja sebagai seorang pengacara/advokat. Banyak orang yang telah dibantunya dalam mencari keadilan.
Ia mengambil keputusan untuk menjadi seorang imam yang mengabdikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dia dengan tekun mempelajari teologi dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar bisa menjadi seorang imam praja/diosesan yang baik.
Alfonsus kemudian ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1726 (30 th). Imam muda ini begitu cepat terkenal dan dicintai banyak umat karena khotbahnya yang menarik dan mendalam. Selain menjadi seorang pengkhotbah ulung, ia pun menjadi bapa pengakuan yang disenangi umatnya.
Pada tahun 1729, ia menjadi imam yang bertugas di sebuah kolose yang khusus mendidik para calon imam misionaris. Terdorong oleh inspirasi dan semangat Pater Thomas Falciola, ia kemudian mendirikan Kongregasi Penebus Dosa Paling Suci (Congregatio Sanctissimi Redemptoris, CSSR) pada tanggal 9 November 1732.
Alfonsus merefleksikan ada 3 jalan untuk menghadapi kematian (masa akhir hidup) yang indah, yaitu:
1) Jangan menunggu sampai saat terakhir. Hal terpenting bagi kita adalah membenci dosa-dosa kita dan mencintai Allah dengan segenap hati.
2) Setiap hari selalu ada kesempatan untuk memeriksa batin kita di hadirat Tuhan dengan mengikuti Ekaristi dan mengakui dosa-dosa kita.
3) Menghindarkan diri dari cinta duniawi. Mengutip St. Ambrosius, siapa yang mematikan cinta duniawi selama hidupnya akan mati dalam keadaan baik. Prinsip yang baik adalah menganggap bahwa setiap hari adalah hari yang terakhir di dalam hidup.
Pertanyaan refleksinya, Keteladanan apa yang dapat kita timba dari Santo Alfonsus? Apakah selama ini kita peka akan suara hati kita? Bagaimana usaha kita untuk mengasah kepekaan suara hati itu?
Selamat berpesta bagi para imam CSSR, serta Anda dan Gereja yang bernaung di bawah perlindungan Santo Alfonsus.
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









