Percik Firman: Jamu Jati Kendi

Twitter
WhatsApp
Email
Soal haram dan halal menjadi bahan pengajaran Tuhan Yesus dalam Injil pada hari ini. Pada dasarnya Yesus mengajak kita untuk melihat dasar kehidupan keagamaan kita, yakni hati manusia.

Selasa, 4 Agustus 2026
PW St. Yohanes Maria Vianey, Imam
Bacaan Injil: Mat 15:1-2.10-14

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Soal haram dan halal menjadi bahan pengajaran Tuhan Yesus dalam Injil pada hari ini. Pada dasarnya Yesus mengajak kita untuk melihat dasar kehidupan keagamaan kita, yakni hati manusia.

Hidup keagamaan yang diajarkan oleh Yesus bukan atas dasar perintah Allah yang tertulis dalam bentuk hukum, melainkan yang tertulis dalam hati manusia. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang dikatakan ‘najis’ (haram) adalah segala sesuatu yang keluar dari hati, bukan yang masuk ke dalam perut manusia.

Yang masuk ke dalam perut melalui mulut, akan berakhir menjadi ‘kotoran’. Tapi yang keluar dari dalam hati manusia dan keluar melalui mulutnya dan tindakannya itulah yang menajiskan. Misalnya: suka marah-marah, berkata-kata kotor, menggosip, menfitnah, caci maki, iri hati, dll.

Yesus meluruskan pemahaman ‘najis’ atau haram yang salah kaprah dalam masyarakat. Najis atau haram bukan sekedar soal makanan, apalagi ada sertifikat halal atau tidak. Tetapi lebih pada tindakan yang dapat merusak, meracuni, dan berakhir pada dosa dalam diri manusia itu.

Santo Yohanes Maria Vianney (1786-1859), pelindung para imam, menjadi teladan bagaimana berbicara dan bertindak dengan hati. Setelah tahbisan menjadi imam, dia diutus Bapa Uskup untuk berkarya di paroki desa terpencil di Ars. Waktu itu umat Ars dikenal sebagai umat yang punya sikap moral yang tidak baik, mabuk-mabukan, bekerja sepanjang hari pada hari Minggu, tidak pernah pergi ke gereja, dll. Sebagian besar dari mereka menggunakan kata-kata yang tidak pantas.

Saya terkesan dengan ungkapan Pastor Vianey atas perutusan di Ars, “Di tempat ini saya tidak dapat melihat sesuatu yang baik, tetapi Bapak Uskup dapat melihat kehendak Tuhan lewat saya di tempat ini”. Ternyata sejak ditahbiskan sampai wafatnya, Pastor Vianey berkarya di Paroki Ars selama 42 tahun.

Pastor Vianney berpuasa dan melakukan silih yang berat demi umatnya. Ia berusaha keras agar mereka berhenti berbuat dosa. Bahkan hampir setiap malam dia digoda oleh setan di kamar tidurnya. Kamar beserta barang-barang pribadinya masih bisa dilihat sampai saat ini ketika orang berkunjung ke Ars.

Beliau mempertobatkan banyak pendosa. Banyak orang dari berbagai tempat berdatangan ke Ars. Kadang-kadang, ratusan orang dalam satu hari. Pastor Vianey menggunakan 12-16 jam sehari untuk melayani pengakuan dosa. Pastor Vianey dinyatakan sebagai orang kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1925.

Marilah kita mohon agar kita makin dimampukan untuk hidup lebih baik (bertobat), menjaga kesucian dan kemurnian hati, perkataan, tindakan, dan pikiran kita. Semoga apa yang kita keluarkan dalam kata dan tindakan menjadi berkah bagi orang lain, bukan menjadi kenajisan. Mari kita hidupi spirit ‘Jamu Jati Kendi’, yaitu Jaga Mulut, Jaga Hati, dan Kendalikan Diri.

Pertanyaan refleksinya, bagaimana penghayatan kita tentang halal dan haram selama ini? Bagaimana usaha kita untuk menjaga kekudusan hati, pikiran, mulut dan tindakan kita?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr