Percik Firman: Pengalaman Pribadi dengan Yesus

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus bertanya kepada para murid, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Lalu Simon Petrus menjawab,

Jumat, 25 September 2026
Bacaan Injil: Luk. 9:18-22

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus bertanya kepada para murid, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Lalu Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias”. Mesias artinya yang terurapi. Orang yang terurapi dikenal sebagai Sang Pembebas, Juru Selamat.

Mesias yang dihayati oleh Tuhan Yesus adalah Mesias yang menderita dan mengorbankan diri, bukan Mesias yang Mulia. Dengan jalan penderitaan dan pengorbanan di salib, Yesus menjadi Mesias bagi semua orang. Para murid diajak untuk setahap demi setahap mengimani Yesus Sang Mesias melalui derita di salib.

Yesus adalah Mesias yang harus menderita, wafat dan bangkit. Para murid sedang disiapkan untuk menghadapi peristiwa tersebut, karena iman mereka akan tergoncang. Mereka harus menghadapi kenyataan yang memaksa mereka mengubah secara total cara pandang yang selama ini mereka yakini tentang Yesus. Dari dialog Yesus dengan para murid ini, mereka harus berjuang untuk mengubah pandangan dan keyakinan mereka, dari hal-hal yang dikatakan orang kepada apa yang dikatakan dan diyakini sendiri.

Sudah sekian lama kita juga mengenal Yesus atau mendengar cerita tentang diri-Nya menurut perkataan orang atau dari berbagai buku yang kita baca dan pengajaran yang kita terima. Jika sekarang adalah “waktunya“ Yesus bertanya dan meminta suatu “jawaban pribadi“, Siapa Yesus bagimu?

Pengalaman pribadi kita dengan Tuhan Yesus akan menentukan pemahaman dan gambaran siapa Yesus bagi kita. Pemahaman seseorang akan Yesus dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya, sudut pandangnya, dan pengalaman pribadi dengan Yesus. Setiap orang bisa memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Merenungkan pertanyaan Tuhan Yesus dalam bacaan Injil hari ini, ada sharing pengalaman dua orang calon imam yang menarik. Orang yang pertama mengungkapkan bahwa Yesus itu sebagai seorang kakek (opa) yang selalu ada untuk menemani cucunya dalam bermain, memberikan kasih sayang, dan menjadi sosok yang bijaksana. “Yesus itu saya rasakan seperti kakek saya”, ungkapnya.

Sementara itu, orang yang kedua mengungkapkan bahwa Yesus adalah tempat sampah yang siap menampung dan menerima keadaan dirinya apa danya, baik saat dia bersih maupun kotor. “Yesus itu ‘tempat sampah’ bagi saya. Dia dengan terbuka menerima keluh kesah dan curhat saya. Dia tidak menolak saya saat saya berdosa”, tuturnya.

Pertanyaan refleksinya, Siapakah Yesus menurut pengalaman konkretmu? Bagaimana caranya untuk membangun relasi yang akrab dengan Yesus?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr