Percik Firman: Ketulusan dalam Olah Kesalehan

Twitter
WhatsApp
Email
Seminari adalah jantung keuskupan. Umat menyadari memiliki tanggung jawab dan memberikan kontribusi yang besar. Kehidupan di seminari sering kali ditopang oleh kebaikan banyak orang. Mereka mempunyai hati dan kepeduliaan terhadap pendidikan calon imam.

Rabu, 17 Juni 2026
Bacaan Injil: Mat 6:1-6.16-18

Saudari-saudara yang terkasih,
Seminari adalah jantung keuskupan. Umat menyadari memiliki tanggung jawab dan memberikan kontribusi yang besar. Kehidupan di seminari sering kali ditopang oleh kebaikan banyak orang. Mereka mempunyai hati dan kepeduliaan terhadap pendidikan calon imam.

Mereka memberikan dukungan dengan berbagai macam jenis, seperti doa, kunjungan, uang, sembako, dsb. Ketulusan dan keiklasan umat tidak diragukan lagi. Berderma seringkali membuat orang “tuman” atau ketagihan untuk terus berderma. Berderma adalah salah satu keutamaan dan praksis kesalehan hidup beriman sejak dulu.

Dalam bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus menyoroti tiga praksis kesalehan hidup dalam agama Yahudi, yaitu berderma, berpuasa dan berdoa. Ketiga praksis kesalehan ini disebut sebagai “kewajiban agama”. Yesus mengawali sabda-Nya dengan kata “ingatlah” (“berhati-hatilah”).

Para murid diingatkan agar selalu menjalani hidup dalam kesadaran terus-menerus. Yang diingatkan bukan agar para murid tidak melakukan kewajiban agama itu di hadapan orang. Tetapi para murid diharapkan tidak melakukan hal-hal itu di hadapan orang agar dilihat. Kita tidak boleh melakukan perbuatan baik dengan intensi agar dilihat atau dipuji orang lain, sehingga tidak menjadi sebuah show atau pertunjukan.

Perilaku seperti itu adalah tindakan seorang munafik dan sudah mendapatkan reward atau balasan. Tanggapan atau reaksi yang diharapkan oleh orang munafik dari khalayak adalah pujian. Melalui sabda Tuhan hari ini kita semua diajak untuk berdoa, berpuasa, dan berderma secara tulus ikhlas. Yesus mengecam kepalsuan, kemunafikan, kesalehan pura-pura yang didorong oleh kebutuhan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan.

Sedekah, puasa dan doa tidak akan membawa kita kepada kesucian bila kita tidak melakukannya dengan tulus. Tidak akan membawa berkah bila kita menjalaninya dengan kemunafikan dan legalistis.

Pertanyaan refleksinya, Bagaimana penghayatan kita terhadap praksis olah kesalehan hidup selama ini? Apa yang mendorong kita untuk berderma, berpuasa dan berdoa?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr