Percik Firman: Pengorbanan yang Total

Twitter
WhatsApp
Email
Di dalam masyarakat Indonesia, ada ungkapan “mati satu tumbuh seribu”. Ungkapan itu mau memberi pesan bahwa dalam hidup ini kita harus tetap memiliki pengharapan dan sikap optimis.

Senin, 10 Agustus 2026
Pesta Santo Laurentius, Diakon dan Martir
Bacaan Injil : Yoh 12:24-26

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Di dalam masyarakat Indonesia, ada ungkapan “mati satu tumbuh seribu”. Ungkapan itu mau memberi pesan bahwa dalam hidup ini kita harus tetap memiliki pengharapan dan sikap optimis. Jika ada yang mati, pasti akan ada penggantinya.

Sebuah kematian tidak sia-sia, tetapi akan melahirkan kehidupan yang baru atau ada penggantinya. Untuk itu, dibutuhkan pengorbanan dan sikap siap sedia mengambil risiko.

Tuhan Yesus memberi contoh nyata bagaimana melaksanakan pengorbanan yang total. Dia meninggalkan Tahta Kemuliaan-Nya di Surga. Dia datang ke dalam dunia untuk berkorban dan rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia. Buah pengorbanan itu adalah keselamatan untuk kita.

Sungguh, sebuah pengorbanan yang tidak ternilai! Ia melaksanakan sendiri sabda yang pernah diucapkan-Nya dalam bacaan Injil pada pesta Santo Laurentius hari ini: “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”

Sejalan dengan teladan Tuhan Yesus, Santo Laurentius yang lahir dari keluarga bangsawan kaya di Roma mempersembahkan hidupnya. Ia hidup saat Gereja mengalami masa penganiayaan kekaisaran Romawi. Banyak orang Katolik, termasuk Sri Paus, bersembunyi di katakombe (kuburan bawah tanah).

Laurensius adalah salah satu dari ketujuh diakon agung yang bekerja membantu Sri Paus di Roma. Paus Sixtus II (257-258) menugaskan Laurensius mengurus harta kekayaan Gereja dan membagikan derma kepada para fakir miskin di seluruh kota Roma. Ia juga melayani Sri Paus dalam setiap upacara keagamaan.

Santo Laurentius wafat sebagai martir pada tahun 258. Tubuhnya dibakar dalam perapian yang menyala-nyala. Dari tubuh yang menderita itu tersebar aroma yang harum memenuhi seluruh tempat itu.

Santo Ambrosius mengemukakan bahwa “Walaupun tubuh Santo Laurensius terbakar di atas benda yang bernyala dengan api, tetapi api cinta Tuhan jauh lebih berkobar-kobar nyalanya di dalam hatinya, dan membuatnya tidak lagi menghiraukan rasa sakit yang dideritanya.”

Pada hari ini kita diingatkan bahwa kita hidup di dunia ini cuma sekali dan mati juga cuma sekali. Maka, mari kita hidup dan mati dengan terhormat. Jangan asal hidup, seenaknya, asal senang, lalu kita menjual iman kita, prinsip kita, apalagi menjual hati nurani kita. Itu berarti menjual harga diri kita sendiri.

Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita punya pengharapan bahwa masih ada hidup yang lain lagi, yaitu hidup yang kekal. Ada tulisan dalam sebuah batu nisan yang berbunyi, ”Life teaches us how to die; Death teaches us how to live” (Kehidupan mengajarkan kita bagaimana caranya mati; kematian mengajarkan kita bagaimana caranya hidup). Kalimat itu menunjukkan adanya hubungan yang saling terkait antara kehidupan dan kematian.

Pertanyaan refleksinya, sudahkah kita berkorban untuk kebaikan banyak orang? Jejak macam apa yang mau kita tinggalkan bagi keluarga, rekan kerja, dan sahabat kita di dunia ini?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang) .

Y. Gunawan, Pr