Kamis, 22 Oktober 2026
Bacaan : Luk 12:49-53
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai tanggapan orang terhadap kehadiran Yesus. Seperti kehadiran Yesus yang menimbulkan pertentangan, kehadiran para pengikut Kristus pun demikian juga. Pertentangan itu terjadi karena ada berbagai tanggapan terhadap kehadiran Yesus. Ada orang yang menerima dan ada orang yang menolak.
Misi Yesus datang ke dunia ini untuk memperdamaikan manusia dengan Allah, tetapi ada orang yang tidak percaya dan menolak kehadiran Yesus dan pengikut-Nya. Maka, menjadi pengikut Yesus harus memiliki komitmen kuat karena akan menghadapi pertengangan tersebut.
Kemurnian komitmen itu terlihat jelas karena Yesus datang melemparkan api ke bumi yang terus menyala. Api sering sebagai lambang pemurnian. Sama seperti memurnikan emas, makin disepuh makin nyata kemurniannya. Yesus sendiri harus dibaptis, betapa susah hati-Nya sebelum hal itu terlaksana. Dalam menjalankan misi keselamatan, Yesus mengalami pergumulan berat karena harus melewati penyiksaan dan penganiayaan.
Sampai saat ini, orang yang menerima Yesus masih sering mengalami penganiayaan dan penyiksaan. Menjadi pengikut Yesus harus tetap konsisten meskipun ditentang oleh orang-orang yang paling dekat sekalipun, yaitu keluarga sendiri.
Tuhan Yesus menegaskan, “Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!” Apa maksud dari sabda Tuhan Yesus itu? Dalam Kitab Suci, ‘api’ sering digunakan untuk menggambarkan api kasih Allah terhadap manusia. Api kasih Ilahi inilah yang dibicarakan Tuhan Yesus, sesuai juga dengan pernyataan kasih Allah ini. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Api kasih Ilahi inilah yang juga menyebabkan Tuhan Yesus menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib di Golgota bagi keselamatan kita para pendosa. Dalam pembaptisan kita ‘ditenggelamkan’ di dalam kematian Kristus, di mana kita ‘mati’ terhadap dosa dan dilahirkan kembali di dalam kehidupan ilahi bersama Yesus. Di dalam kehidupan yang baru ini, kita sebagai murid Kristus harus juga hidup dalam api Roh Kudus, seperti para rasul Yesus. Dengan kobaran api kasih Ilahi itu, semoga kehadiran kita bisa menghangatkan, menerangi, memurnikan dan membawa berkat bagi sesama kita.
Pertanyaan refleksinya, Bagaimana cara kita untuk menghangatkan, memurnikan dan membawa api kasih ilahi bagi keluarga dan sesama? Apa tantangan kita menjadi pengikut Kristus pada zaman ini?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









