18 Oktober 2026
Minggu Biasa XXIX (Minggu Misi),
Bacaan: Yes. 45:1,4-6; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21
Saudari-saudaraku yang terkasih,
Pada hari ini Gereja merayakan Hari Minggu Misi ke-100 (seabad). Tema yang diangkat, “One in Christ, united in mission” (Satu dalam Kristus, Bersatu dalam Misi). Paus Leo XIV menekankan bahwa karya misi bukanlah tugas individu, melainkan buah dari kesatuan iman. Paus Leo XIV mengajak Gereja modern menyalakan kembali api sukacita serta semangat misioner dalam bimbingan Roh Kudus.
Satu abad perjalanan misi menjadi bukti bahwa pewartaan Injil bukan hanya tugas para imam, biarawan, biarawati, atau misionaris yang diutus ke negeri-negeri jauh. Setiap orang yang dibaptis dipanggil menjadi misionaris melalui iman, perkataan, dan tindakan nyata yang membawa harapan bagi sesama. Seratus tahun Hari Minggu Misi Sedunia bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan memperbarui komitmen untuk melanjutkan karya perutusan Kristus.
Bapa Suci menegaskan bahwa persekutuan dengan Kristus adalah fondasi utama. Tanpa persatuan internal Gereja, kesaksian di luar tidak akan berdaya. Gereja dipanggil menjadi jembatan belas kasih di tengah dunia yang terpecah. Setiap paroki dan komunitas harus mampu mengampuni, berdamai, dan bekerja sama secara inklusif. Paus juga mendorong para misionaris dan umat awam untuk mencari cara-cara (metode) baru yang kreatif dalam mewartakan Injil, memanfaatkan ruang digital, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan esensi kasih.
Dalam Bacaan Injil hari ini, dikisahkan ada sekelompok orang Farisi dan Herodian yang tidak senang dengan Yesus. Mereka bersekongkol dan berusaha mencari-cari kesalahan Yesus terkait dengan kewajiban membayar pajak. Tujuannya supaya mereka bisa menyalahkan dan menyingkirkan Yesus.
Padahal Yesus telah berbuat banyak untuk kebaikan rakyat Yahudi, dengan karya kesehatan (menyembuhkan orang-orang sakit), karya pendidikan (mengajar tentang Sabda Bahagia, kerajaan Allah, pengampunan, dsb), karya sosial-ekonomi (memberi makan pada banyak orang), dsb.
Dengan bijaksana, Yesus menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Yesus memberikan cara pandang atau mindset baru, bukan soal boleh atau tidak boleh, tetapi soal baik atau tidak baik. Yesus mengajak kita untuk menjadi warga negara yang baik, sekaligus menjadi umat yang taat pada Allah. Sungguh seorang patriot dan sungguh seorang katolik.
Bagaimana caranya? Caranya dengan (1) Menjadi jembatan dan pembangun jembatan dengan saling menghormati dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian; (2) Merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan; (3) Menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia; dan (4) Berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bersama.
Pertanyaan refleksi, Bagaimana cara kita untuk menjadi jembatan belas kasih pada zaman modern ini? Apa sumbangan kita untuk mewujudkan bakti kita pada Allah dan bangsa?
Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).
Y. Gunawan, Pr









