Percik Firman: Dosa yang Tidak Terampuni

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam injil hari Tuhan Yesus menegaskan, “Barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.”

Sabtu, 17 Oktober 2026
PW St Ignatius dari Antiokhia (Uskup dan Martir)
Bacaan Injil: Luk 12:8-12

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam injil hari Tuhan Yesus menegaskan, “Barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.” Dalam Sakramen Tobat ada 3 unsur penting, yaitu: mengakui dosa, menyesali dosa, dan membangun niat. Seseorang perlu mempunyai sikap rendah hati untuk mohon pengampunan kepada Tuhan. Semua dosa diampuni oleh Tuhan, kecuali dosa menghujat Roh Kudus.

Apa dosa menghujat Roh Kudus itu? Tugas utama Roh Kudus adalah ‘menginsafkan’ atau menyadarkan manusia dari dosanya. Jika manusia tidak mau insaf dan menyesal, ia berdosa melawan Roh Kudus. Dosa menghujat Roh Kudus berarti tindakan manusia yang menolak kasih Allah, kebenaran, dan pengampunan dari Allah.

Di dalam Katekismus Gereja Katolik no.1864 diajarkan, “Apabila seseorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal” (bdk. Mrk 3:29).

Lebih lanjut, diajarkan, “Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus. Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.”

Hari ini Gereja merayakan Santo Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir. Dia murid Santo Yohanes Rasul. Dia adalah murid yang pandai, saleh dan bijaksana. Dia diangkat menjadi Uskup Antiokhia. Pada masa itu umat Kristen dikejar-kejar dan dianiaya oleh Kaisar Trajanus. Ignasius sendiri tidak luput dari pengejaran dan penganiayaan itu.

Biasanya kepada mereka ditawari dua kemungkinan: murtad atau mati. Kalau mereka murtad dan menyangkal imannya, mereka akan selamat. Kalau tidak, nyawanya akan melayang. Karena tidak mau menyangkal imannya, Ignasius ditangkap dan digiring masuk Colosseum gelanggang binatang buas. Di sana tubuhnya yang suci diterkam dan dicabik-cabik singa-singa lapar. Darahnya yang suci membasahi tanah gelanggang itu. Dia mati sebagai martir di Roma pada tahun 107.

Dari Santo Ignatius Antiokhia, kita bisa belajar bagaimana tetap pantang menyerah dan selalu percaya akan penyertaan Tuhan dalam suka-duka dan penderitaan. Penderitaan tidak dihindari, tetapi dihadapi dengan iman yang teguh.

Pertanyaan refleksinya, Seberapa sering kita menerima Sakramen Tobat selama ini? Apa yang perlu kita lakukan ketika menghadapi kesulitan dan masalah yang berat dalam hidup ini?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr