Temu Karya Guru Katolik di Sekolah Negeri: Refleksikan Makna Kehadiran di Tengah Perbedaan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam rangka memperingati HUT ke-60 Kevikepan Semarang, Komisi Pendidikan Kevikepan Semarang mengundang para guru Katolik yang berkarya di sekolah-sekolah negeri di Kota Semarang dan Kota Salatiga untuk hadir dalam kegiatan Temu Karya Guru Katolik di Sekolah Negeri yang diselenggarakan pada hari Jumat, 18 September 2026, di Aula Yustinus Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KPP-KAS)

Semarang – Dalam rangka memperingati HUT ke-60 Kevikepan Semarang, Komisi Pendidikan (Komdik) Kevikepan Semarang mengundang para guru Katolik yang berkarya di sekolah-sekolah negeri di Kota Semarang dan Kota Salatiga untuk hadir dalam kegiatan Temu Karya Guru Katolik di Sekolah Negeri yang diselenggarakan pada hari Jumat, 18 September 2026, di Aula Yustinus Kantor Pusat Pastoral Keuskupan Agung Semarang (KPP-KAS), Jl. Imam Bonjol 172 Semarang.

Ibu Yeni selaku Ketua Komdik Kevikepan Semarang memberikan sambutan bagi para guru Katolik yang hadir

Sekitar 70 an guru Katolik yang hadir disambut oleh ibu Debora Yeni Kuntari, selaku Ketua Komdik Kevikepan Semarang. Kegiatan ini menjadi ruang jeda yang berharga bagi para pendidik yang setiap hari berkarya di lingkungan yang mayoritas bukan Katolik untuk mensyukuri sebuah panggilan yang tidak selalu mudah, tetapi menyimpan makna yang dalam.

Romo Vikep saat memberikan sambutan dalam Temu Karya Guru Katolik

Dalam pengantarnya, Romo JB Rudy Hardono, Pr., Vikep Semarang menyapa secara langsung guru Katolik di sekolah non-Katolik. Menjadi minoritas di tempat kerja bukan perkara ringan. Pasti ada rasa canggung dalam mengekspresikan iman, momen kesepian, penyesuaian budaya dan kurikulum yang menuntut kelenturan. Namun, para guru diingatkan bahwa kehadiran mereka bukan karena kebetulan melainkan sebuah penugasan Ilahi yang mulia. Meneladan Yesus yang berjalan bersama dua murid dalam kisah Emaus, guru Katolik hadir penuh kasih tanpa harus banyak bicara, sebab, tindakan nyata selalu bicara lebih nyaring daripada kata-kata. Para guru seyogyanya memiliki komitmen pribadi untuk menghadirkan “wajah Yesus yang Maha Rahim” di ruang karya pelayanan masing-masing.

Pak Ferdinand saat membawakan materinya

Kegiatan ini mengundang narasumber Bapak Dr. Ferdinand Hindiarto, S.Psi., M.Si., Ketua LEKAS KAS, yang mengajak para guru untuk merenungkan sumber kebahagiaan mereka sebagai pendidik. Mengutip riset Deloitte yang menyatakan bahwa orang yang bahagia adalah orang yang produktif, Pak Ferdinand memaparkan konsep Happiness by Design bahwa kebahagiaan bukan sekadar takdir atau kebetulan, melainkan sesuatu yang bisa dirancang. Ia mengajak peserta membedakan antara pleasure, kesenangan yang sifatnya sesaat dan material, dengan purpose, makna hidup yang lebih tahan lama. Meskipun begitu, Pleasure dan Purpose harus berjalan seimbang.

Pak Ferdinand membawakan materinya dengan sangat interaktif dan diselingi guyon, sehingga muncul gelak tawa dari para guru yang hadir

Penyampaian materi dua arah yang diselingi guyon menjadi ciri khas Pak Ferdinand dan mampu membangkitkan semangat para guru. Dalam interaksinya dengan para guru, Pak Ferdinand memberikan PR, yaitu setiap guru harus memiliki minimal 3 hobi atau pleasure untuk menjaga keseimbangan hidup agar benar-benar menjadi pribadi yang bahagia. Menjadi sosok yang bahagia akan membuat hidup lebih produktif. Dengan demikian, hal baik akan menular ke lingkungan baik antar sejawat maupun siswa-siswi yang harus didampingi.

Para guru yang hadir juga memperhatikan materi pak Ferdinand dengan seksama. Mereka juga merasa tersapa dari kegiatan ini

Para guru merasa sangat tersapa dan berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan tidak berhenti pada momen ini saja, karena berinteraksi bersama seperti ini menjadi penguat dalam karya dan menjadi sumber bahagia dalam menjalankan tugas pelayanan sebagai guru ke depannya.

Kegiatan Temu Karya ini ditutup dengan pesan penyemangat bersama: “Jadilah garam dan terang di mana pun Tuhan menempatkan Anda.” Sebuah ajakan sederhana namun bermakna karena panggilan menjadi guru Katolik tidak berhenti di gerbang sekolah Katolik, tapi terus hidup di mana pun Tuhan mengutus. (yas-sekkomdiksmg)

Berikut adalah video kilas Temu Karya Guru Katolik di Sekolah Negeri: