Atmodirono – “Perkawinan itu menelanjangi ego.” Kalimat Romo Albertus Joni, SCJ, sontak mengundang tawa sekaligus membuat lebih dari seribu umat terdiam sejenak. Di balik gaya bicaranya yang kocak, Romo Koko -sapaan akrabnya- sedang mengajak umat bercermin: mengapa mempertahankan keluarga sering kali jauh lebih sulit daripada membangunnya?
Pertanyaan itu menjadi bagian dari refleksi Romo Koko dalam acara bertema “Kasih Tangguh, Keluarga Utuh” yang digelar di Gereja Paroki Keluarga Kudus Atmodirono Semarang, Senin (14/9/2026).
Umat dari berbagai paroki hadir mengikuti pengajaran imam dari Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus (SCJ) yang dikenal luas melalui konten-konten iman di TikTok.

Dengan gaya khasnya yang jenaka, Romo Koko mengupas realitas kehidupan perkawinan dan keluarga. Joke-jokenya berkali-kali mengundang tawa, tetapi di balik humor tersebut terselip pesan yang serius tentang ego, pengampunan, doa, dan kesetiaan.
Dua Orang Tak Sempurna
Romo Koko mengingatkan bahwa perkawinan bukanlah pertemuan dua manusia sempurna.
“Perkawinan itu adalah dua orang tak sempurna, yang memiliki ‘cacat’ pada masa lalunya, namun yang berusaha menghadirkan Tuhan Yesus di tengah-tengah kehidupannya dan lalu berusaha untuk hidup bersama-sama,” ujarnya.
Karena itulah, menurutnya, perkawinan bukan perjalanan yang ringan.
“Ini (perkawinan) adalah beban yang sangat-sangat berat!” katanya.
Beban tersebut menjadi semakin terasa karena perkawinan mempertemukan dua pribadi dengan karakter, kebiasaan, pengalaman, dan ego masing-masing.
“Perkawinan itu menelanjangi ego. Kita bisa egois saat menikah,” tegasnya.
Bagi Romo Koko, persoalan keluarga tidak selalu harus diselesaikan dengan mencari siapa yang paling benar. Justru, keluarga membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui kekurangan dan keberanian untuk memulai kembali.
Tiga “Mantra” agar Keluarga Tak Mudah Retak

Lalu apa yang bisa dilakukan agar keluarga tetap utuh? Romo Koko membagikan tiga “mantra” sederhana yang dapat menjadi pegangan dalam kehidupan keluarga.
Pertama, “harap maklum.” Kata sederhana ini mengajak pasangan untuk belajar menerima bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Kedua, berani mengatakan, “Aku salah, aku maafkan kamu, kita mulai lagi.” Bagi Romo Koko, kemampuan mengakui kesalahan dan memberikan pengampunan menjadi bagian penting dalam mempertahankan relasi.
Ketiga, “Suka-suka-Mu, Tuhan.” Ungkapan ini menjadi bentuk penyerahan diri kepada Tuhan ketika keluarga berhadapan dengan situasi yang tidak selalu dapat dikendalikan manusia.
Ketiga “mantra” tersebut pada akhirnya mengarah pada satu hal: keluarga membutuhkan kerendahan hati untuk menerima, mengampuni, dan menyerahkan hidup kepada Tuhan.
Suami Bukan Sekadar Pencari Nafkah

Romo Koko juga mengingatkan para suami mengenai panggilan mereka dalam keluarga sebagai imam, raja, dan nabi. Menurutnya, tiga tugas tersebut sering kali terlupakan. Padahal, tugas tersebut merupakan bagian dari identitas dan berkat yang Tuhan berikan kepada suami.
“Fungsi pengudusan diberikan kepada suami. Demikian pula fungsi kepemimpinan diberikan kepada suami dalam kerja sama dengan penolongnya yang sepadan, yaitu istri,” tandasnya.
Dalam kehidupan keluarga, lanjutnya, para bapak memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi keluarga. Namun kepemimpinan tersebut bukan berarti berjalan sendirian. Suami dan istri dipanggil untuk bekerja sama sebagai pasangan yang saling melengkapi.
Ketika Doa Tak Menghilangkan Masalah
Satu hal lain yang ditekankan Romo Koko adalah pentingnya mengosongkan diri di hadapan Tuhan. Mengosongkan diri berarti berani menyerahkan kehidupan keluarga kepada Tuhan dan memberikan ruang bagi-Nya untuk bekerja.
“Kalau tidak mengosongkan diri di dalam keluarga, yang ada hanya stres, karena kita gagal melibatkan Tuhan dalam hidup keluarga kita,” ucapnya.
Romo Koko juga mengingatkan umat bahwa doa tidak selalu membuat persoalan langsung hilang. Doa, katanya, kadang tidak menghilangkan salib. Bahkan, Tuhan dapat mengizinkan keluarga menghadapi beban yang lebih berat agar keluarga semakin menyadari pentingnya melibatkan Tuhan. Dengan demikian, keluarga tidak hanya mengandalkan kekuatan manusia ketika menghadapi persoalan, tetapi belajar membawa setiap pergumulan ke hadapan Tuhan.
Luka yang Justru Bisa Menjadi Mutiara

Di penghujung acara, suasana berubah menjadi lebih hening ketika Romo Koko mengajak seluruh peserta berdoa. Ia menggunakan gambaran mutiara sebagai simbol kehidupan keluarga.
“Seperti mutiara yang dibentuk dari luka, kami juga hendak menyatakan bahwa keluarga kami tidak akan menyerah pada luka-luka kami, pada kekurangan kami, dan pada pergumulan hidup kami,” doanya.
Bagi Romo Koko, luka dalam keluarga tidak harus menjadi alasan untuk menyerah. Sebaliknya, luka dapat menjadi bagian dari proses yang membentuk keluarga menjadi semakin kuat ketika keluarga memilih untuk tetap berjalan bersama Tuhan.
“Lebih dari itu, kami mau menyatakan bahwa di dalam Yesus selalu ada kesempatan untuk memulai kehidupan baru lagi,” lanjutnya.
Doa itu kemudian ditutup dengan sebuah permohonan sederhana sekaligus mendalam.
“Tuhan, bantulah kami supaya apa pun musim kehidupan kami, kami tidak akan lepas dari tangan-Mu.”
Malam itu, Romo Koko tidak menawarkan resep keluarga tanpa masalah. Ia justru mengingatkan bahwa keluarga akan selalu berhadapan dengan ego, luka, kekurangan, dan pergumulan. Namun selama kasih tetap diperjuangkan, pengampunan masih diberikan, dan Tuhan tetap dilibatkan, selalu ada kesempatan bagi keluarga untuk memulai lagi. (BD Elwin)