Percik Firman: Merawat Anugerah Kemerdekaan

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam Bacaan Injil hari ini, dikisahkan ada sekelompok orang Farisi dan Herodian yang tidak senang dengan Yesus. Mereka bersekongkol dan berusaha mencari-cari kesalahan Yesus, lalu menjebak Yesus.

Senin, 17 Agustus 2026
HR Kemerdekaan Indonesia
Bacaan: Mat 22:15-21

Saudari-saudaraku yang terkasih,
Dalam Bacaan Injil hari ini, dikisahkan ada sekelompok orang Farisi dan Herodian yang tidak senang dengan Yesus. Mereka bersekongkol dan berusaha mencari-cari kesalahan Yesus, lalu menjebak Yesus. Tujuannya supaya mereka bisa menyalahkan dan menyingkirkan Yesus.

Padahal Yesus telah berbuat banyak untuk kebaikan rakyat Yahudi, dengan karya kesehatan (menyembuhkan orang-orang sakit), karya pendidikan (mengajar tentang Sabda Bahagia, kerajaan Allah, pengampunan, dsb), karya sosial-ekonomi (memberi makan pada banyak orang), dsb.

Orang-orang Farisi berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan terkait dengan kewajiban membayar pajak. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada Yesus: “Guru, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”

Pertanyaan ini kelihatanya bagus dan sederhana, tetapi di balik pertanyaan itu mereka bermaksud menjebak Yesus. Jika Yesus menjawab “orang perlu membayar pajak”, maka orang banyak bisa memusuhi Yesus karena Yesus pro penjajah. Jika menjawab “orang tidak perlu membayar pajak”, maka Yesus akan dipandang sebagai pembangkang kaisar dan penghasut rakyat. Secara manusiawi situasinya membuat dilema.

Memang harus hati-hati, sabar dan bijaksana dalam menghadapi orang-orang yang sudah tidak suka, orang-orang yang iri hati. Apa saja yang diperbuat selalu salah di mata mereka dan dicari-cari alasan untuk menyalahkan. Jenis orang seperti ini masih bisa dijumpai di sekitar kita saat ini.

Dengan bijaksana, Yesus memberikan kita teladan. Dia menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”. Yesus memberikan cara pandang atau mindset baru, bukan soal boleh atau tidak boleh, tetapi soal baik atau tidak baik. Yesus mengajak kita untuk menjadi warga negara yang baik, sekaligus menjadi umat yang taat pada Allah.

Dalam Surat Gembala Kemerdekaan RI ke-81 pada tahun 2026 ini, Mgr. Rubiyatmoko juga mengingatkan kita untuk merawat anugerah kemerdekaan. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.

Caranya dengan menempuh empat langkah pertobatan bersama, yaitu: Menjadi jembatan dan pembangun jembatan dengan saling menghormati dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian; Merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan; Menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia; dan Berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bersama.

Mari berusaha menjadi patriot (pembela tanah air) sejati di bumi Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Merdeka! Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang) # Y. Gunawan, Pr