Percik Firman: Hati-hati dengan Roh Jahat Masa Kini

Twitter
WhatsApp
Email
Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan bagaimana kehadiran Tuhan Yesus memberikan daya kekuatan (aura) yang luar biasa. Saat tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, ada dua orang yang kerasukan setan. Mereka datang dari pekuburan dan mendatangi Yesus.

Rabu, 1 Juli 2026
Bacaan Injil: Mat 8:28-34

Saudari-saudara yang terkasih,,
Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan bagaimana kehadiran Tuhan Yesus memberikan daya kekuatan (aura) yang luar biasa. Saat tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, ada dua orang yang kerasukan setan. Mereka datang dari pekuburan dan mendatangi Yesus. Mereka berteriak dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

Bayangkan, roh jahat atau setan tahu siapa Yesus. Mereka mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sejak dulu roh jahat atau setan selalu takut akan kehadiran Yesus. Mereka sudah tahu siapa sebenarnya Yesus, tetapi tidak mau menerima dan mengimani Tuhan Yesus.

Otoritas atau kewibawaan Yesus memang sungguh luar biasa. Ketika otoritas Yesus bekerja dan disertai dengan kesediaan kita menerimanya, maka akan terjadi suatu perubahan yang memulihkan dan menyelamatkan. Tetapi jika kita tidak menerima dan membuka diri, kuasa kegelapan (roh jahat) yang menguasai hidup kita ini.

Hidup di zaman modern saat ini banyak sekali “setan” yang berkeliaran dalam aneka bentuk dan wujudnya. Di tengah zaman yang serba canggih, kalau kita tidak waspada dan cermat, komputer, hand phone, dan internet bisa dipakai sebagai cara kerja roh jahat.

Orang mudah terjerumus pada penyembahan berhala, menyebarkan berita hoak atau bohong, fitnah, cercaan, makian yang kasar, dan menyebarkan gosip kepada sesamanya.

Paus Fransiskus pernah menegaskan dalam salah satu homilinya di Kapel Santa Marta supaya orang Katolik tidak bergosip. Mengapa? Menurut Sri Paus, bergosip adalah godaan setan untuk merusak orang baik. Pada zaman modern sekarang ini godaan untuk bergosip semakin kuat.

“Bergunjing itu seperti terorisme karena orang yang bergosip seperti teroris yang melempar bom dan melarikan diri, kemudian merusak. Dengan lidahnya, mereka menghancurkan perdamaian. Bergosip adalah godaan setan untuk merusak orang baik,” tegas Sri Paus.

Lebih lanjut dikatakan, “Kita semua adalah target serangan setan karena mereka tidak ingin kita lepas dari dosa. Maka, mari kita menahan diri mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang berujung pada gosip dengan menggigit lidah kita”.

Pertanyaan refleksinya, Apakah selama ini kita sering tergoda untuk menggosip saat berkumpul dengan teman-teman? Apa niat kita untuk menciptakan kehidupan bersama menjadi lebih baik dan penuh persaudaraan?

Berkah Dalem dan Salam Teplok dari Bujang Semar (Bumi Jangli Semarang).

Y. Gunawan, Pr